Khalid Misyal: Stop Embargo Sebelum Membicarakan Genjatan Senjata!


islamedia.co khalid misyal
Islamedia.co - Khalid Misyal, Kepala Dinas Urusan Politik Gerakan Perlawanan Islam "Hamas" mengajak untuk menyetop embargo di Jalur Gaza sebelum membicarakan kesepakatan apapun terkait genjatan senjata. Misyal juga menekankan pentingnya membuka pintu masuk Rafah dan mengizinkan masuknya berbagai bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Pada jumpa pers yang dilakukan sore Rabu hari ini, Misyal mengatakan bahwa "tuntutan kami untuk gencatan senjata sangat beralasan, dan kami sudah mengajukan proposal itu kepada Turki, Qatar, Mesir dan Pemerintahan Palestina dan kepada semua pihak, dan siapapun yang dapat melakukannnya tentu saja kami akan sangat menghargai dan mengapresiasi kerja kerasnya". Misyal menambahkan: "tidak ada yang dapat melucutkan senjata perlawan Hamas. Ada dua syarat pelucutan senjata kami, yaitu menghentikan penjajahan Israel dan pembangunan pemukiman Israel, dan yang kedua lucutkan senjata Israel.

"setelah Turki dan Qatar melakukan inisiatif untuk genjatan senjata kamipun mulai mendengar berbagai inisiatiaf lainnya yang datang dari berbagai pihak, dan kami tidak pernah menghalangi peran siapapun terkait hal ini" singgung Misyal, sekaligus menjelaskan bahwa "Menlu US John Kerry lah yang mengontak Menlu Turki dan Qatar dan meminta kedua Menlu untuk melakukan kontak dengan Hamas terkait genjatan senjata ini". Pada waktu yang bersamaan Misyal menekankan bahwa "Hamas tidak akan dapat menerima inisiatif-inisiatif apapun yang berusaha untuk menelikung tuntutan-tuntutan Hamas, namun Hamas akan tetap menerima permintaan genjacatan senjata untuk tujuan kemanusiaan yang dapat membantu warga Gaza".

Pemimpin Palestina ini menguatkan bahwa perlawanan rakyat Gaza telah membuktikan bahwa mereka tidaklah tidur atau sibuk melakukan perdagangan diterowongan, melainkan Hamas sudah melakukan inovasi baru di terowongan dan persiapan yang sangat matang untuk menghadapi Israel, Hamas senantiasa berkhidmat dan "bergadang malam" demi rakyatnya".

Misyal juga menyatakan bahwa "Netanyahu lah yang pertama kali mengajukan genjatan senjata setelah dia merasa keteteran, dan Israel dikagetkan oleh kemampuan Perlawanan Hamas yang bernafas panjang".

Misyal menekankan bahwa "perlawanan menghadapi penjajahan Zionis adalah wajib dan sebuah kehormatan bagi kami, dan penjajah Isreal lah yang pertama kali memulai pertempuran dengan melakukan berbagai tindak kriminalnya di Tepi Barat dan Al-Quds. Sementara di Gaza ada Warga Yang Senantiasa Hidup dan Pahlawan-Pahlawan Tangguh yang senantiasa melakukan perlawanan terhadap penjajah, dan kami akan senatiasa membalas permusuhan Israel sampai kapanpun, karena kami perlawanan kami logis dan tercerahkan. Di Gaza ini kami memiliki pahlawan-pahlawan garang yang tidak akan pernah diam menerima penjajahan dan permusuhan yang dilakukan oleh Israel, sampai kapanpun!".

Misyal juga menyinggung bahwa "Israel kaget dengan balasan perlawan militer yang kami lancarkan di Gaza, mereka kira bahwa Perlawanan Hamas di Gaza sudah melempam dan keok, mereka salah sangka. Perlawanan telah membuktikan kesiapannya dan kreasi-kreasi barunya untuk kedepan yang nyata dan perlawanan saat ini yang sedang menjadi model"

Misyal mengatakan bahwa "apabila Batalion-Batalion Al-Qassam berikrar maka itu serius, dan apabila menjannjikan sesuatu maka pasti akan ditepati, tidak ada yang dapat melucuti senjata Perlawanan Hamas dan tidak ada yang dapat mematahkan perlawanannya!".

Misyal juga menjelaskan bahwa "di medan tempur kami sudah menghadapi banyak pasukan dan pemimpin-pemimpin pasukan yang senantiasa kami hajar habis, karena kami lah pemilik hakiki tanah Palestina, sementara mereka hanyalah para perampok"

Misyal juga menekankan bahwa "Rakyat kami adalah korban meskipun kami tak bergeming dan dapat memenangi peperangan, dan kami tidak tidak bisa menerima perlakuan arogansi dari siapapun, Gaza membuat senjatanya sendiri dan berperang untuk membela diri".

Misyal meminta agar pintu-pintu menuju Gaza yang dikuasai oleh negara-negara arab dapat dibuka untuk bantuan-bantuan kemanusiaan, dan appresiasi besar pada kerja keras semua pihak untuk menghentikan serangan-serangan Israel dan menyetop embargo di Jalur Gaza.

Misyal juga menjelaskan bahwa pesan para tawanan sudah kami baca dan "dengan izin Allah kami akan membebaskan kalian". Misyal juga mengajak Kerry untuk mengunjungi Gaza sebagaimana dia telah mengunjungi Ramallah, agar dapat melihat langsung seperti apa kondisi dilapangan ketika membuat keputusan.

Misyal juga menyinggung bahwa "Hamas senantiasa melakukan kontak kepada semua divisi-divisi perlawanan terhadap Israel, dan kami berada dalam satu barisan perlawanan yang kokoh, sebagaimana kami juga melakukan kontak-kontak dengan Gerakan Al-Fatah dalam frame kedinasan.

Ketika menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait keinginan Netanyahu untuk mundur dari pertempuran secara sepihak, Misyal menjawab: "kami punya solusi sendiri terkait hal itu jika benar-benar terjadi!". (Elshaab/Syaff)




close
Banner iklan disini