Kemenangan Untuk Pemilih Prabowo-Hatta



Islamedia.co - Nama presiden Republik Indonesia sudah ditetapkan di Lauhul Mahfuzh jauh sebelum bumi diciptakan. Tetapi apa pilihan kita pada pilpres kemarin akan dipertanggung jawabkan kepada Allah swt di akhirat kelak. Karena itu, siapa yang akan ditetapkan menjadi presiden oleh KPU tidak relevan dengan menang-kalahnya individu. Tetapi pilihan individu yang akan dipertanggung-jawabkannya kepada Allah swt lah yang menentukan menang-kalahnya di akhirat nanti.

Maka berbesar hati lah pemilih Prabowo-Hatta, karena ia memiliki alasan yang kuat saat dihisab nanti. Bahwa mereka – pemilih Prabowo-Hatta – telah berikhtiar menyelamatkan negeri ini dari ancaman penghapusan perda syariah, dari ancaman sekulerisasi negara ini yang ditandai dengan dihapuskannya kolom agama di KTP, dari ancaman diserahkannya menteri agama kepada syiah, dan sebagainya. Mereka sudah melaksanakan amanat maqosid syariah, yaitu Hifdz Ad-Diin (menjaga agama).


Para pemilih Prabowo-Hatta juga mereka yang telah berikhtiar menghindari negeri mereka dari dipimpin oleh orang yang tidak kompeten dan menjadi alat penipuan oleh media massa. Mereka tahu bahwa kemiskinan di Solo cukup tinggi dan kemiskinan di DKI pun meningkat saat dipimpin pesaing Prabowo, sehingga mereka mengkhawatirkan bila negara ini dipimpin oleh orang seperti itu. Mereka juga mempertimbangkan bagaimana serapan anggaran DKI yang sangat kecil saat gubernur yang sekarang memimpin, juga kasus kebocoran anggaran hingga 1,5 Triliiyun rupiah yang menyebabkan BPK men-down-grade status laporan keuangan Pemda DKI menjadi Wajar Dengan Pengecualian. Sebuah rapor merah. Atas pertimbangan-pertimbangan itu, pemilih Prabowo-Hatta sudah menjalankan amanat maqosid syariah, yaitu Hifdz Al-Mal, menjaga harta negara ini dari manajemen buruk penguasanya.


Para pemilih Prabowo-Hatta juga telah melihat bagaimana kompetitor pasangan itu adalah orang yang tidak menguasai konsep pertahanan dalam negeri. Capres lawan ingin negara ini dijaga oleh tiga buah drone yang total harganya 4,5 Triliun rupiah, padahal kemampuan drone sangat tidak memadai menjaga perbatasan Indonesia. Belum lagi drone membutuhkan satelit dalam operasionalnya,namun capres lawan membela penjualan satelit strategis RI di zaman Megawati. Capres lawan mengatakan main battle tank tidak efektif untuk wilayah Indonesia karena beratnya yang besar (60 ton), hal yang ditertawakan oleh anak SMP yang baru belajar tekanan permukaan. Dan capres lawan terlihat tidak menguasai konflik Laut Cina Selatan. Tentu pemilih Prabowo-Hatta menginginkan pemimpin yang paham bagaimana cara mempertahankan negeri ini dari asing. Keselamatan dan keutuhan negeri ini harus dijaga. Walau kemungkinan itu jauh, tetapi memilih pemimpin yang mengerti sistem pertahanan yang terbaik untuk negeri ini bila diserang oleh pihak asing adalah amanat maqosid syariah (hifdz An-Naas).


Pemilih Prabowo-Hatta adalah mereka yang menginginkan negara ini dipimpin oleh pemimpin yang tegas yang akan mencegah terjadinya perampokan sumber daya alam Indonesia oleh asing maupun warganya sendiri. Mereka cerdas membongkar pencitraan palsu media massa yang disuap oleh asing dan aseng. Mereka juga mengikuti pilihan para ulama.


Lengkap dan kokoh sudah jawaban para pemilih Prabowo-Hatta di hadapan Tuhan. Semoga Allah swt menerima ikhtiar mereka.


Andri Budiman