Menjaga Jalinan Ukhuwah


Islamedia.co - Islam begitu Indah. Itulah kata yang tepat dan pas apabila kita mengetahui secara dalam dan mempelajari seksama kandungan yang diajarkannya. Ajaran Islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW yang bersumber dari kalamullah tentu saja membuat bahagia bagi siapa saja yang melaksanakannya dengan penuh ketaatan. Jika kita taat tentu surga balasannya. 


Ajaran islam yang sempurna  mengatur ragam dimensi kehidupan umatnya. Mulai dari hubungan kepada Allah (Habluminallah) dan juga hubungan kepada manusia (Habluminannas) . Dalam hubungan sesama, islam meletakan pondasi yang kuat di dalamnya. Sering kita mengenalnya dengan tali silaturrahmi yang akan melahirkan ukhuwah. Karena begitu pentingnya hubungan sesama manusia, sampai-sampai, dalam hadits dinyatakan bahwa doa yang kita panjatkan akan terkabul asalkan selama tidak memutuskan hubungan  tali silaturrahmi. Subhanallah… 


Dalam firman Allah dalam surat Al-Hujurat  ayat 10, “Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara”. Dan juga dalam suatu hadits dijelaskan bahwa pentingnya menanamkan rasa cinta kepada sesama, “Sayangilah orang yang ada di bumi, niscaya engkau disayangi siapa yang ada di langit” (Diriwayatkan Ath Thabrani dan Al Hakim Hadist ini shahih)”. 
 
Begitu indahnya islam mengatur tata kehidupan umatnya. Jalinan ukhuwah yang kuat tentu saja menimbulkan rasa cinta kepada sesama. Namun bagiamana mengolahnya?: 
 
1.    Pasang Niat
Niat, merupakan pondasi awal saat melakukan aktivitas apapun , sebagaimana sabda Rasul “Sesungguhnya semua amal-amalan itu tergantung pada niat.” Nah, Perihal menjaga niat, dalam pertemanan sering sekali dilupakan. Apa tujuan berteman dan apa visi pertemananya. Ini pont penting dalam melanggengkan pertemanan dalam hal ini adalah ukhuwah. Bila niatnya untuk memperoleh ilmu, memahami agama atas dasar ikhlas karena Allah, Insya Allah rintangan dalam pertemanan atau ukhuwah akan terus terjaga dengan baik.
 
2.    Kenali dia
Tak kalah pentingnya seperti masa ta’aruf dengan seseorang yang ingin dipinang atau meminang, dalam hubungan pertemanan pun begitu. Sepanjang pertemanan harus ada pemahaman. Yakni berusaha untuk memahami satu sama lain, baik karakter, visi atau kebiasaannya. Apakah dia seseorang teman yang sensitif atau tidak, terlebih saat ini banyak candaan yang membuat luka hati seseorang. Walau niatnya menghibur, tapi upayakan candaan yang tidak merendahkan seseorang. 
 
Ada suatu hari, al-Imam asy-Sya’bi rahimahullah bercanda, maka ada orang yang menegurnya dengan mengatakan, “Wahai Abu ‘Amr (kuniah al-Imam asy-Sya’bi, -red.), apakah kamu bercanda?” Beliau menjawab, “Seandainya tidak seperti ini, kita akan mati karena bersedih.” (al-Adab asy-Syar’iyah, 2/214) Namun, jika sendau gurau ini tidak dikemas dengan baik dan menabrak norma-norma agama, bisa jadi akan memunculkan bibit permusuhan, sakit hati, dan trauma berkepanjangan. Pada dasarnya, bercanda hukumnya boleh, asalkan tidak keluar dari batasan batasan syariat.
 
  1. Berbagilah
Kita sering sekali mendengar istilah berbagi dalam kehidupan. Baik materi ataupun non materi,. Sebagaimana firman Allah Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik padamu. (Al-Qashas [28]: 77) . Berbagi juga erat kaitannya untuk menumbuhkan rasa cinta dan kasih kepada sesama. 

Sebagaimana sabda Rasul “Hendaknya kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al Bukhari). Subhanallah… begitu sempurna ajaran Islam dalam setiap sendi kehidupannya. Nah ini merupakan cara untuk menumbuhkan cinta dan kasih kepada sesama. Insya Allah dengan sering berbagi hadiah kepada sesama jalinan pertemanan atau ukhuwah akan terus terjalin. Terlebih bila ada cinta hanya karena Allah semata. 

  1. Perhatikan gaya hidup
Hak seorang muslim dengan muslim lainya salah satunya adalah saling member nasihat. Gaya hidup masa kini seorang muslim juga tak terlepas dengan siapa ia bergaul. Namun sebagai muslim yang baik. Hendaknya kita banyak mencontoh suri tauladan bagi umat manusia , yakni Nabi Muhammad SAW. Beliau seorang pengusaha, panglima perang, dan juga kepala negara namun tetap memilih kesederhanaan. Inilah yang menjadi point sebagai umat islam. Menjauhi gaya hidup hedonisme, yang bisa jadi karena gaya hidup yang hedon, bisa luka bagi orang-orang kecil di sekitar. Jadi perhatikan lingkungan disekitar kita.

  1. Memaafkan
Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin agar Allah mengampunimu? Sesungguhnya, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nur: 22).  Setiap dari kita tentu memiliki kesalahan secara langsung ataupun tidak, namun yang terpenting adalah memaafkan apapun kesalahannya adalah kunci terjalinnya hubungan erat. Namun bila hati berat ingatlah kembali janji Allah. 

Coba lihat dan perhatikan kembali kisah-kisah Nabi Muhammad yang dihina dan dicaci maki saat berdakwah. Banyak tantangan bukan? Namun manisnya sangat terasa. Terlebih setelah peristiwa Fathul Mekkah, berduyung –duyung umat terdahulu menyatakan keislamannya. Dan ingat lagi ganjaran yang diberikan kepada Allah bagi orang yang sabar. Semoga kita menjadi pribadi yang terjaga hatinya dan mudah memaafkan. Aamiin [Novi Oktavianti/Islamedia]