Pemutus Kenikmatan Dunia


Islamedia.co - Maut adalah terlepasnya nyawa dari raga. Artinya seseorang yang tidak hidup lagi. Banyak orang yang takut akan mati dan tidak sadar dia akan mati. "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah  kepada  Kami kamu dikembalikan." (QS. Al-Ankabuut : 57). Begitulah Allah mengingatkan kepada kita tentang hari yang sudah pasti. Lagi-lagi banyak manusia yang tidak menyadarinya karena disibukan oleh urusan dunia.
                Kita pasti mengetahui kambing yang akan disembelih saat Idul Kurban, mereka mendapat nomor urut masing-masing. Para kambing itu semuanya tidak menyadari bahwa nomor urut mereka semakin dekat, yang artinya kambing tersebut telah dekat pada kematian. Karena urusan perut yang mendominasi keadaan saat itu, maka dia disibukan dengan aktivitas itu dan lupa akan hari yang telah pasti.
                Tidak jauh beda dengan kondisi manusia yang "mencintai dunia", maka Allah menyibukan diri orang-orang tersebut dengan pekerjaan duniawi. Dan Allah melabeli mereka sebagai manusia yang lalai dalam beribadah. Allah berfirman yang berkenaan dengan kondisi manusia yang melalaikan waktunya, yaitu terdapat pada surat Al-Ashr, ayat 1-3:
"Demi Masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menanti dalam kesabaran serta menasehati agar tetap dalam kesabaran." (QS. Al-Ashr : 1-3)
                Pemikiran yang keliru ketika menafsirkan waktu adalah uang, maka mereka akan sangat disibukan dengan urusan dunia dan meninggalkan urusan akhirat, yang semestinya saling mengingatkan agar tidak masuk dalam kerugian. Orang yang merugi adalah mereka yang tidak dekat dengan Allah. Melewatkan malam panjangnya dengan tidur, nonton, main, dll. Biasanya orang-orang semacam itu lupa akan waktu ketika bersinggungan dengan kegemaran atau kesukaan mereka terhadap sesuatu.
Bagi kaum muslimin waktu merupakan pedang dengan 2 mata pisau yang tajam. Yang satu terarah pada orang tersebut dan yang satunya lagi mengarah kepada musuh-musuhnya. Jika kita mampu memanfaatkan waktu dengan baik maka pedang itu bisa menghantam sesuatu yang tidak bermanfaat. Namun sebaliknya, maka manusia akan kehilangan momentum dalam hidupnya untuk berubah. Menafsirkan waktu adalah uang akan sangat bertentangan dengan ayat-ayat yang terkandung dalam surat Al-Ashr.
Bisa dikatakan bahwa manusia dalam kerugian, kecuali pada 4 hal yang menjadikan manusia terbebas dari kerugian, hal-hal tersebut adalah beriman kepada Allah, beramal sholeh, saling menasihati dalam kebenaran, saling menasihati dalam kesabaran. Ke-empat hal tersebut sangat erat kaitannya dengan ritual ibadah. Sehingga tidak akan mungkin seorang muslim lalai jika memahami ke-empat makna tersebut. Berbeda dengan mereka yang menafsirkan waktu bagaikan uang, hingga mereka meninggalkan ibadah demi kenikmatan dunia yang sesaat dan menipu manusia.
                Kematian merupakan rahasia Allah yang tak akan pernah bisa manusia mengetahuinya, semisal nabi Daud As, yang merupakan sahabat karib dari malaikat Izrail Dalam sebuah kisah dialog antara Nabi Daud dan Malaikat Izrail ; Daud berkata, "Wahai Izrail jika engkau hendak mengambil nyawaku maka beritahu aku terlebih dahulu." "Baiklah", Izrail menjawab. Suatu ketika Izrail bertemu kembali dengan Nabi Daud As, dan Nabi Daud kaget bukan kepalang, "Kenapa engkau tidak memberi tahu diriku bahwa engkau akan kembali padaku." Izrail menjawab; " Sudah lama aku memberi tahumu akan kedatanganku." "Apa maksudmu?" Daud As. menjawab dengan penuh keheranan. "Lihatlah rambutmu yang telah memutih, kulitmu yang mulai keriput, dan langkahmu yang mulai berat, tidak cukup aku memberitahumu wahai Nabiyullah". Tegas Izrail atas keheranan Daud As. "Jika begitu aku siap untuk dipanggil menuju Rabb ku."
                Jelas sudah kisah di atas mengingatkan kita akan hari itu. Sekaliber Daud As. saja tidak menyadari maut mengintai begitu dekat, apalagi kita yang jauh dari baik. Sehingga pesan Rasulullah kepada kita adalah, "Ingatlah hari kematianmu sehari minimal dua puluh kali, agar kamu mati dalam keadaan syahid." Sudahkah kita melakukan itu semua? Ataukah kita masih disibukan oleh dunia kita? Maka tiada kata lain kita harus meningkatkan kualitas iman kita dan kedekatan kita kepada Allah dengan berbagai macam cara yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
Wallahu a'lam bishshawab
 
Abu Faiz AlFatih
 
Pengajar dan Ketua Kelompok Studi Palestina