Menanti yang (tak) Pasti : Jodoh, Rezeki dan Mati.


Islamedia.co - Usianya hampir genap dua puluh delapan tahun. Rasanya sudah terlambat bila dibandingkan dengan teman-teman dikampungnya untuk menikah. Banyak sudah teman-teman seusianya yang hampir punya dua bahkan tiga momongan. 

Tapi dia punya alasan kenapa sampai saat ini belum juga meminang seorang akhwat dambaan hatinya. Dia pergi dari kampung halamannya untuk menimba ilmu membekali diri sejak empat belas tahun yang lalu. Sejak lulus sekolah dasar dia belajar di salah satu pesantren besar dikampung tetangga. Dan kini dia sudah lulus sarjananya. Saat ini pun dia sedang menunggu jadwal untuk wisuda jenjang pasca sarjananya dalam bidang syari’ah di salah satu kota terkenal dan terbesar di Jawa Tengah. 


Rindu begitu menggebu untuk segera mengajukan niatnya menikah kepada seorang guru. Namun dia masih saja terbebani dengan bayang-bayang keraguan. Ia ragu dengan segala ketidakpastian. Dia hanya bisa berdoa mendekatkan jiwa kepada Rabbnya. Menjaga diri dari segala maksiat meninggalkan durhaka. Ia jaga pandangan dari yang haram dan belum halal baginya. Ia pertahankan izzah demi kehormatannya untuk ia persembahkan nanti pada sang pujaan yang Allah kirimkan sebagai teman perjuangan hidupnya. Dia yakin ketika ia rengkuh cinta ilahi, Rabbnya akan menjadikan semua makhluk mencintainya.

Keyakinannya semakin menghujam kuat. Jiwanya kokoh menjulang kelangit. Ibadahnya kini menumbuh suburkan keyakinan dalam sanubari bahwa jodoh, rezeki dan mati telah ditulis dalam titah ilahi. Titah yang tertuang jauh sebelum ia terlahir ke alam kehidupan. Tak mungkin berubah, tak mungkin tersalah. Kini jiwanya sejuk. Tumbuh keberanian dalam jiwa seorang yang berkeyakinan membaja dengan bekal izzah seorang yang terjaga dari segala durhaka. 

Benar saja. Kini di hadapannya tergeletak amplop berisi biodata. Di sampingnya duduk seorang berwajah kharismatik sedang memberikan wejangan dan memberi pemahaman tentang kemuliaan pernikahan. Gurunya terus memberi motivasi, dorongan dan sugesti.  : “Ini tawaran yang tidak ada duanya lho. Ambil kesempatan baik ini akhi. Mau sampai kapan terus sendirian.” Begitu deras motivasi dari seorang ustadz lalu dia berikan amplop itu kepadanya. : “waktunya hanya tiga hari akhi. Segera tentukan pilihanmu.” Tutup gurunya.

Hatinya semakin berdegub kencang. Memuji asma yang maha Rahman. Tak henti batinnya berdzikir memanggil dalam diam. Sholat dua rakaat pun ia dirikan. Sebelum ia memberanikan diri membuka isi amplop dari gurunya yang menjadi panutan. “Masya Allah, ia wanita yang luar biasa”. Pujinya dalam sunyi

“Seorang wanita cerdas dan trengginas. Wanita yang sedang menempuh pendidikan di manca negara. Jenjangnya pun pasca sarjana. Bahasa Inggris dan Mandarinnya juga luar biasa. Ia seorang peneliti profesional. Secara financial jelas jauh di atas awang-awang. Belum lagi orang tuanya, pasti mereka orang yang berpunya dari keluarga yang kaya raya. Dari lingkungan yang berpendidikan tinggi selangit”. 

Ia mulai membanding-bandingkan dengan dirinya sendiri. : ”sedang aku petani kampung yang makan saja harus bekerja sangat keras dan apa adanya. Sehari puasa sehari baru bisa berbuka. Aku bisa kuliyah saja karena prihatin dengan banyak puasa senin-kamis bahkan puasa Daud karena harus menabung untuk biaya kuliyah dan ujian setiap semesternya. Tinggalku pun di masjid, selain ingin lebih dekat dengan Rabbku, yang lebih mendasara adalah demi alasan ekonomi”. Kebimbangannya mulai tumbuh kembali, membuncah memenuhi relung sanubari. Memaksa mengundurkan langkah dan niatnya demi menjaga harga diri saat nanti tidak diterima pinangan terhadap pujaan hati. Ini bak langit dan bumi tak mungkin bisa bersatu.    

Sekali lagi ia mengadu pada Ilahi, sholat istikhoroh pun ia jalani kembali. Meminta petunjuk dan memohon pertolongan Ilahi Rabbi. : “Ya Allah… Jodoh, Rezeki dan Matiku telah pasti. Jika memang dia jodohku dekatkan. Dan jika bukan jauhkan ya Allah.” Ia mengiba. Cucur air matanya meleleh tak tertahankan. Menetes membasahi sajadah yang kelak akan menjadi saksi di hadapan Tuhan. 

Hari ta’aruf pun tiba. Jarak yang membentang antara negrinya dan negri tetangga tak menjadi penghalang niat suci melaksanakan ibadah sunnah nabi. Mereka sepakat akan berkenalan lewat dunia maya. Skype yang sudah terpasang segera diaktifkan. Didampingi sang murobbi masing-masing mereka saling berbincang. Dan memang kebaikan tidak mungkin tanpa ujian. Kemuliaan pasti melewati sebuah hambatan. Skype yang diharapkan bisa terlihat wajah lawan bicara pun tak sesuai harapan. Kini ia bak telpon biasa yang hanya terdengar suara lawan bicara dari kejauhan. 

Gambarnya tak tampak tak bisa melihat siapa dan seperti apa yang ada diseberang sana yang sedang bicara? Sempat ada kekecewaan di sini. Apakah ta’aruf ini harus diulang lagi? Karena ini belum standar sesuai aturan. Tapi tsiqohnya kepada jodoh yang telah tertulis tetap kuat tertancap. “bagaimana akhi, ini belum saling melihat wajahnya. Apa perlu diulang lagi ta’arufnya?” Tanya murabbi memberi solusi. Dengan sangat tegas tanpa ragu dia berucap: “Cukup!” ia segera bertanya dengan sangat singkat : ”Apakah proses bisa dilanjutkan?” tanyanya ingin segera ia tau jawaban akhwat di seberang sana.

Proses pun sampai perkenalan pada orang tua. Dia beranikan untuk membuat janji akan secepatnya bersilaturahim ke rumah orang tua akhwat yang tidak dekat jaraknya. Sama-sama satu negri namun membentang jarak antara timur dan barat. Ini pun berat baginya karena ia sedang dihadapkan dengan pendaftaran wisuda pasca sarjananya yang tidak kecil biayanya. 

Sempat terlintas dalam pikirnya menunda jadwal wisuda. Demi mendahulukan biaya untuk persiapan meminang dan walimahnya. Namun sekali lagi jodoh, rezeki dan mati telah tercatat dalam tinta Lauhul Mahfudz nan tinggi. Ia yakin dengan janji Allah yang akan membuka kran rezeki saat nikah benar-benar demi Ilahi. Demi menjalankan separuh din ini. Demi menjaga kehormatan dan harga diri. Demi Nabi, demi menjaga generasi. Melahirkan para pejuang pada waktunya nanti. Ia tadabburi ayat “in yakuunuu fuqoroa yughnihumullah min fadhlih” (An-Nur: 32) jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan kelebihan Allah. 

: “wes daftar wisuda?” dia baca sms dari kawan seperjuangan, saat sama-sama kuliyah di S 2 yang telah lama menunggu kuota wisuda terpenuhi. Dulu mereka berdua sering berjanji akan wisuda sama-sama nantinya. Berat ia mengetik sms balasannya, tapi tetap yakin dengan janji Allah bahwa rezeki telah pasti! : “Nuqud masih kurang. Nunggu ada rezeki dari Allah lagi.“ ia mengiba pada Allah sambil membalas sms. : “Kesuwen” (baca: kelamaan) sms kembali masuk ke hp bututnya. : “Allah membagi rezeki tidak pake lama. Setiap saat. Sabar saja Insya Allah nanti ada waktunya.” Ia meyakinkan. 

Allah memberi bukti. Mereka benar-benar menikah. Sekalipun istrinya lebih mulia dibanding dirinya. Ilmunya tinggi tak tergapai. Kecantikannya menawan tak terbandingkan. Kesholehahannya tak terbantahkan. Namun jarak bagai langit dan bumi dapat bersatu manakala mereka hanya mencari ridho dan cinta Ilahi. Tak ada halangan berarti dalam proses yang berjalan. 

Dan kini mereka hidup bahagia bersama. Mengarungi samudra kehidupan luas dengan bahtera rumah tangga yang kokoh. Ombang-ambing badai yang menerjang tak berarti bagi bahtera yang terus berlayar sampai kemuaranya. Keharmonisan kian lama kian terasa. Kini mereka telah diberikan anugrah dan amanah Allah dengan tujuh penghafal Qur’an di rumahnya. Setiap menjelang sholat fardu terdengar sayup indah merdu Qur’an menggema.  Tidak ada masalah berarti dalam kebahagiaan bersama keluarga. Mereka saling melengkapi saling menyayangi. Kini dia telah menyelesaikan program doktoralnya dari Univ. Islam Malaya. Sedang istrinya lebih dulu menyelesaikan program doktoralnya di salah satu Univ di Negri Samba. Mereka telah menemukan jodoh yang Allah janjikan. Mereka telah menikmati rezeki yang Allah siapkan. Dan kelak mereka akan kembali ke pangkuan Allah dengan mendapat sambutan 

:“Ya Ayyatuhan Nafsul Muthmainnah. Irji’i ila rabbiki raa dhiyatam mardhiyyah. Fadkhuli fi ’ibadi. Wadkhuli jannatii…”

“Wahai jiwa yang tenang…
Kembalillah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhoi-Nya.
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku.
Dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

( Qs Al Fajr : 27-30)






Muhammad Khumaidi

Praktisi Pendidikan SMAIT Nur Hidayah Surakarta

Alumnus Ma’had Aly An-Nu’aimy Jakarta
Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta