Ahmad Ammar, Suami Spesial ini Menjemput Syahid di Medan Rabiah



Islamedia.co - Syuhada kita kali ini adalah suami ideal yang tidak hanya didambakan oleh bidadari dunia tapi juga didambakan oleh bidadari surga, tak hanya suami yang dicintai dan dibanggakan istri, tapi juga dicintai dan dibanggakan sekaligus dirindukan oleh bidadari surga.

Ia adalah As-Syahid Ahmad Ammar yang gugur syahid dalam pembantaian demonstrasi Rab’ah Al-Adaweah Mesir, 14 Agustus 2013. Dan bulan ini (Mei 2014), pembantaian tersebut genap Sembilan bulan, pembantaian yang menjadi sejarah kelam demokrasi Mesir.

As-Syahid Ahmad Ammar adalah seorang suami yang lemah lembut kepada istrinya, menggaulinya dengan baik, jujur dan terus terang kepada istrinya. Ia adalah seorang suami yang mampu menghibur istrinya, berbicara dengan bahasa yang lembut dan menarik, mengerti dan mau mendengar perkataan istrinya dan suka bertukar pikiran dengan istrinya.

Maka tak heran jika istrinya mengatakan bahwa Ahmad Ammar adalah suami spesial, yang menjadi bapak sekaligus suami, saudara sekaligus kekasih, sahabat sekaligus anak.

"Ahmad bukanlah suami biasa, tapi ia bagi saya adalah seorang suami, kekasih, sahabat, saudara, sebagai bapak dan sebagai anak. Setiap orang yang melihat kami akan berpikir bahwa kami berdua adalah dua sahabat. Ia berusaha untuk membahagiakanku dengan berbagai cara. Ia juga sangat mendengarku, hingga ketika ia berbicara apa saja, ia tidak pernah mengatakan harus. Kami selalu saling bertukar pikiran dalam setiap keputusan, dan tidak ada pemikiran karena dia seorang laki-laki hingga harus memaksakan pikirannya. Ia juga sangat menghormati dan memuliakan setiap inisiatif dari akhwat mana pun dalam aksi. Allah merahmatimu wahai kekasihku”. Ungkap Yasmin Abdul Fattah, istri sang syahid.
 
As-Syahid Ahmad Ammar lahir pada tanggal 16 Oktober 1979. Dia adalah Alumni Jurusan Tehnik Universitas Ain Syams angkatan 2001 yang meraih gelar diploma Universitas Amerika di bidang Administrasi Projek dan bekerja di perusahaan E.C.G Tehnik Konsulting. Beliau anak pergerakan Jamaah Ikhwanul Muslimin dan pendiri Team Making Future Zahra Nasr City untuk jenjang siswa SMP dan SMA. As-Syahid memiliki kebiasaan lari pagi setiap setelah shubuh mengelilingi Taman Al-Atfal. Beliau memiliki semangat kuat untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. 

Bapak dari tiga anak ini, yaitu Rim 10 Tahun, Wadim 4 tahun, dan Musa satu tahun 3 bulan, dan pada hari As-Syahid gugur di Rab’ah Al-Adawiyah pada tanggal 14 Agustus 2013 hari itu juga bertepatan  dengan hari ulang tahun putri sulungnya.

As-Syahid gugur ditembak oleh perwira kudeta dengan empat tembakan yang bersarang di tubuhnya di saat ia berusaha mencegah salah satu buldoser yang dipakai militer untuk menghancurkan lapangan Rab’ah.

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Dan jangan sekali-kali engkau menyangka orang-orang yang terbunuh (yang gugur Syahid) pada jalan Allah itu mati, (mereka tidak mati) bahkan mereka adalah hidup (secara istimewa) di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki (QS. Ali Imran: 169).

 
Semoga Allah mengarunia kita dengan kehidupan yang bahagia bersama orang-orang yang kita cintai dan kita kembali dikumpulkan bersama orang-orang yang kita cintai. Allahumma Aamiin. [syuhadar4bia.com]