ACT dan GNOTA Luncurkan Program Wakaf Peralatan Sekolah dan Donasi Buku


Islamedia.co - Seabad lebih, tepatnya 20 Mei 1908 adalah awal tumbuhnya kebangkitan nasional. Kebangkitan Nasional ini tidak bisa lepas dari peran pendidikan dan sejumlah pelaku sejarah. Pendidikan pada saat itu melahirkan negarawan ulung, politisi sejati, cendekiawan dan profesi strategis untuk mengabdi kepada nusa dan bangsa.

Pendidikan pada masa itu juga mempersiapkan rasa kebebasan, tanggung jawab, merdeka, rasa nasionalisme dan patriotisme. Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Di depan memberi contoh serta keteladanan, di tengah membulatkan dan mewujudkan tekad serta kehendak, di belakang selalu memberikan dorongan dan keteladanan.

Sayangnya, menurut Direktur Komunikasi ACT Iqbal Setyarso, pendidikan Indonesia dalam keadaan darurat moral. Anak-anak di sekolah sempat menjadi tidak aman baik secara moral maupun fisik. Kekerasan terhadap anak, pelecehan seksual dan problematika pendidikan lainnya berjamuran di dunia pendidikan. Sehingga, pendidikan yang seharusnya menghasilkan sesuatu yang baik justru menghasilkan generasi yang salah.

“Kita harus bergegas memulihkan kualitas pendidikan. Elemen terpenting pendidikan seperti pemimpin, guru dan orang tua harus mengajarkan tak hanya dengan kata-kata tetapi juga sikap. Kalau gagal menjamin institusi pendidikan berjalan normal, maka gagal juga melakukan regenerasi bangsa,”kata dia.

Bicara pendidikan, kata Iqbal, adalah bicara ranah makro dan peran sebuah bangsa. ACT berharap kebangkitan nasional terutama di ranah pendidikan dapat dilakukan semua pihak. Generasi miskin dapat mencicipi pendidikan dan orang-orang terbaik bersedia terjun ke wilayah krisis pendidikan seperti di di daerah terpencil.

“ Ini harus menjadi isu yang perlu menjadi prioritas,”kata dia.

Untuk itu, dalam rangka menggelorakan pendidikan sebagai awal dari Kebangkitan Nasional, Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap bersama Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA) menyelenggarakan diskusi dengan tema “Pendidikan Awal Kebangkitan Nasional” di Toko Buku Gunung Agung, Cabang Kwitang Jakarta Pusat, Selasa (21/5).

Acara ini dihadiri oleh Ketua GNOTA Gendis, Direktur Komunikasi ACT Iqbal Setyarso, Vice President ACT Ibnu Khajar dan Tim Fundraising GNOTA Fandi Yusuf. Selain diskusi kebangkitan nasional, juga diluncurkan program wakaf peralatan sekolah ACT dan donasi buku GNOTA.

Dengan peluncuran wakaf peralatan sekolah dan juga donasi buku, ACT dan GNOTA memastikan agar harapan masyarakat terhadap pendidikan tetap hidup. Melalui berbagai program yang sudah direalisasikan, kedua lembaga berupaya untuk tetap fokus dalam bidang pendidikan dengan membantu masyarakat yang kurang mampu agar memeroleh akses dan kualitas pendidikan yang baik.

Fandi Yusuf mengatakan, sebagai lembaga, GNOTA dan ACT mempunyai konsentrasi yang intens terhadap pendidikan. Program donasi buku dan wakaf peralatan sekolah ini, kata Fandi, diharapkan partisipasi aktif masyarakat terutama generasi muda.

“Pasalnya, meski pemerintah sudah menggulirkan sekolah gratis 9 tahun, tak semua merasakan pendidikan terutama di daerah-daerah pelosok negeri. Terlebih lagi untuk menikmati akses terhadap peralatan sekolah dan juga buku,”kata dia.

ACT dan GNOTA mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam program ini dengan menyisihkan sebagian hartanya demi mewujudkan cita-cita anak bangsa yang saat ini tidak bisa atau putus sekolah karena keterbatasan biaya, fasilitas dan akses pendidikan.

“Anak-anak mempunyai beban psikologis karena mereka tidak punya seragam dan peralatan sekolah. Kami ingin mengajak generasi muda untuk peduli,”kata dia.

Sementara itu, Head Of Marketing Global Wakaf Hendra Irawan mengatakan, untuk sasaran program wakaf peralatan sekolah adalah sekolah yang tepat berdiri diatas empang, berlokasi di Jalan Kampung Sawah, Semper, Cilincing, Jakarta Utara. MI Miftahul Ulum Desa Cibadak, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor yang para siswanya terpaksa harus belajar di rumah warga karena sekolahnya hancur akibat longsor. Juga SDN To’batan Kupang NTT yang memiliki 6 ruang kelas, 3 ruang kelas (1,2,3) merupakan bangunan permanen dan 3 lainnya (kelas 4,5,6) merupakan ruang darurat yang beratap rumbia dan berdinding kayu.

“Dengan program ini setidaknya, berdiri sarana pendidikan berupa lingkungan sekolah yang sesuai standar kegiatan belajar mengajar dengan kualitas bermutu,”kata dia.[act/Islamedia/YL]