Nikah Oh Nikah..!!


Islamedia - Teman-teman sekamar dan seusia yang masih bujangan, selalu seru ketika mendiskusikan nikah. Bayangan mereka tentang 5 huruf itu sama : bahagia, ceria, menyenangkan, penghilang lelah dan sarana untuk mencicipi surga. Pembicaraan tentang kata itu tidak pernah kering dan selalu seru, banyak dinamika, beda pendapat dan akhirnya satu : berakhir dengan tawa dan tanda tanya penasaran.


Lain teman kosan, lain pula teman jauh. Baru saja menikah, sepertinya ia memang menemukan surga. Parasnya jadi sumringah, badannya tambah seger, senyumnya makin menginspirasi. Sayangnya, tampang syukur dari dirinya agak berkurang. Ia seperti berlebihan dalam memaknai nikmat nikah itu. Entahlah, semoga Allah memberkahi pengantin baru itu.

Lain lagi dengan salah seorang pelanggan buku. Baru saja ia berkisah. Suaminya beranjak pergi dari rumahnya, sekitar dua hari yang lalu. Masalahnya kompleks. Sayapun tidak mau terjun terlalu jauh untuk mengetahui masalah itu. Dalam keterbatasan ilmu, saya hanya berpesan : Kawan, lihatlah dan renungi makna dari Kalam Ilahi ayat 19 surah An Nisa, “Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”

Ayat di atas adalah pendidikan terbaik dari Allah. Karena bisa jadi, awalnya kita tidak mencintai orang yang kita nikahi. Maka, saya ingat pesan pelangganku itu, “ Menikahlah dengan wanita yang benar-benar kamu cintai Mas.”

Mundur ke balakang sejenak, ada umahat sholikhah yang mengisahkan rumah tangganya. Awalnya, suaminya luar biasa. Sholih, romantis, pekerja keras dan perhatian. Waktu berjalan, suaminya berubah. Wajar saja sebenarnya. Karena hidup memang harus berubah. Sayangnya, perubahan ini menuju kepada keburukan. Singkatnya, rumah tangganya mulai retak. Apalagi setelah ada orang ketiga, keempat dan kelima dalam rumah tangga mereka. 

Untungnya, sahabat saya ini bermental baja. Alhamdulillah dengan terus merapat ke langit, rumah tangga pasangan dakwah ini sekarang kembali bersemi. Bunga kembali mekar dan menyebarkan aroma harum bagi sesama. Doaku selalu sama dalam tiap jenak kesempatan, “Semoga menjadi keluarga mujahid. Amiin.”

Lebih senior dari sahabat saya itu, ada seorang wanita bermental baja. Atau, bisa jadi lebih kuat dari baja. Ia adalah orang tua tunggal dari ketujuh anaknya. Bayangkan bagaimana repotnya merawat ketujuh anak, seorang diri? Jika membayangkan saja susah, apalagi menjalankannya? Untungnya, ibu ini senantiasa menjadikan Allah sebagai stau-satunya sandaran. Meski terbiasa jatuh, ia segera bangkit karena Allah selalu menguatkannya. Ia telah memberikan yang terbaik untuk ketujuh buah hatinya. Meski dengan begitu, ia telah mengorbankan dirinya. Satu dari sekian banyak hal yang saya ingat dari kalimatnya, “Saya harap ketujuh anak saya ini akan menjadi mujahid, pejuang agama Allah. Amiin”

Di belahan bumi lain, ada seorang lelaki. Istrinya baru satu, tapi pacarnya banyak. Tampangnya gagah, tegar dan keren. Luar biasa! Ia sering kali digodai cewek. Meski tidak pernah melakukan hubungan badan dengan wanita lain, ia didapati sering ‘jajan’ diluar. Satu hal yang kurang ia nikmati dari bahtera rumah tangga yang telah bertahun di jalinnya, “Istriku mandul. Kami tidak mungkin mempunyai keturunan. Dalam hening, saya hanya berucap, “Tetap berdoa saja Pak, Allah Maha Baik.”

Ternyata, bagi Bapak ini, tidak punya anak adalah sebuah ujian yang bisa jadi maknanya ancaman, ‘tidak punya penerus perjuangan dari darah dagingnya.’
Dalam kasus lain, saya mendapati sebuah rumah tangga yang banyak anak tapi ‘belum’ banyak rejeki. Ini bukan karena Allah yang salah berjanji. Karena janjiNya itu Pasti Benar. Ini terjadi lantaran kedua orang tuanya hanya menikmati ketika ‘membuat’ anak tanpa memikirkan lebih jauh akan diapakan anaknya itu. Keluarga seperti ini kehilangan orientasi kehidupan sehingga berjalan tanpa arah. Semoga kita tidak meniru jenis keluarga ini.

Oh ya, satu lagi. Ini yang paling ideal. Bukan fiksi. Melainkan kisah nyata. Saya kenal dan pernah bertemu orangnya.

Yang pertama, seorang ustadz yang belum dikaruniai anak. Istrinya sakit dan rahimnya harus diangkat. Dalam kaca mata manusia, istinya tidak mungkin beranak. Namun, beliau luar biasa. Beliau mengadopsi seorang anak dan mendirikan pesantren yang menampung banyak anak sebagai santrinya. Meski kehadiran santrinya tidak seperti anak kandung, saya yakin bahwa ustadz ini telah berhasil memaknai ujian yang Allah berikan berupa tidak diberikannya beliau seorang anak.

Yang kedua, seorang pasangan suami istri. Saya sekali menjumpaui pasangan itu ‘mesra’ di atas panggung. Mesra dalam berdakwah. Sang istri berceramah, suami menyeksamai. Dan sebaliknya. Kau tahu? Beliau adalah orang tua dari 10 anaknya. Yang ajaib namun tidak mustahil, kesepuluh anaknya itu adalah penghafal Al Qur’an. Kali kedua bertemu dengan sang Suami, saya menyalami dan melemparkan senyum kepada beliau sembari membatin,”Semoga saya sesholih antum Tadz. Sehingga layak mempersunting wanita sesolikhah istri antum.” Pesan beliau yang tak saya lupakan, “Suami dan Istri harus sevisi dalam berumah tangga. Saling bergantian dalam mendidik anak. Tidak ada tugas permanen. Semuanya bisa dilakukan berdua dan bergantian. Asal tetap sesuai syari’at Islam”

Terakhir, seorang mujahidah. Beliau sudah berpulang ke Rahmatullah. Banyak yang telah mengisahkan ketegaran beliau dalam berdakwah dan berumah tangga. Beliau adalah ibu dari 13 anak. Beberapa diantaranya berhasil mendapat beasiswa di luar negeri. Sedangkan yang lainnya juga mendapat kesempatan belajar di kampus ternama negeri ini. Meski sibuk, beliau masih sempat berkirim sms mesra ke suami, tilawah tidak kurang dari 2 juz dalam sehari, rutin tahajud, dhuha dan aneka aktivitas sosial lainya. Kalimat yang selalu saya ingat dari nasehat beliau, “Saudara kita di Palestina, mereka istiqomah melakukan Tahajud. Padahal di depan mereka ada bom, di samping mereka ada granat, di belakang mereka ada senapan yang siap tembak. Lalu, apakah kita yang hidup tenang akan kalah dengan mereka?”

Akhirnya, menikah memang misteri. Ia adalah keberanian. Keberanian seorang hamba untuk mewujudkan janji Allah. Bahwa dengan menikah, hidup akan lebih berkah. Menikah adalah janji dari sang Nabi, “Menikah adalah sunnahku. Barangsiapa melakukan sunnahku, maka dia adalah golonganku.”

Untuk yang telah menikah, selamat mengarungi bahtera suci bernama rumah tangga. Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepada keluarga kalian. Untuk yang belum menikah, persiapkan diri sebaik mungkin. Karena tiada pasangan bagi orang baik kecuali orang baik pula. Setelah siap, jangan berlama-lama. Segera eksekusi. Karena dengan menikah, Allah akan menghalalkanmu untuk mencicipi dan menghadirkan surga, sebelum surga di akhirat kelak.

Blogger/Aktifis Sosial Media
close
Banner iklan disini