Hasan Hammam, Pemuda Pemurah itu Syahid di Medan Rab’ah



Islamedia.co - Hasan Hammam yang berumur 28 tahun lahir di Alexandria adalah Alumni Fakultas Tarbiyah dan lulus pada bulan Oktober tujuh tahun silam (2006), bekerja sebagai pengajar di sekolah yang jauh dari rumahnya dengan gaji yang sedikit. Namun demikian ia tetap mencintai pekerjaannya itu. Menurut Abdul Rahman Syulbi, teman As-Syahid, suatu ketika As-Syahid ditawari pekerjaan di luar Mesir, namun as-Syahid lebih cendrung menolak keluar Mesir karena menurutnya akan menjauhkannya dari Mesir dan ruhnya, juga menjauhkannya dari keluarga dan saudara-saudaranya, dan pada akhirnya ia menolak tawaran pekerjaan tersebut dan lebih memilih Mesir.

As-Syahid melewati detik-detik yang sulit saat terjadi penyerangan terhadap demonstran bertahan Rab’ah peluru panas menghadang dari segala arah begitu juga cartoucha dan gas air mata.As-Syahid pun terkena tembakan di kepala dan meninggal akibat luka tembakan yang dideritanya.

Sebelum pesta pernikahanku, saya pergi ke Rab’ah untuk menyalami saudara-saudaraku dan mengundangnya datang ke pesta pernikahanku. Saya pun memasuki salah satu tenda dan mendapatkan kira-kira tiga orang di dalamnya, salah satunya adalah Hasan Hamam. Ia sedang tidur terlentang di tanah, saya pun membangunkannya dan menyalamiku namun ia tidak mengenaliku, karena belum sadar betul dan juga karena tenda yang gelap.

Setelah berapa lama  ia pun mengenaliku dan langsung merangkulku dengan erat. Kami pun duduk bercerita dan saling menenangkan. Kami lama tak ketemu dan ia sangat gembira ketika mengetahui pesta pernikahanku besok. Setelah itu saya pun menyalami dan merangkulnya, dan saat itu saya tak menyadari bahwa rangkulan saat itu adalah rangkulan terakhir dengan beliau dan terakhir kali saya menyalaminya.Hasan ikut bergabung dengan demonstrasi bertahan sejak hari pertama, lebih 40 hari bertahan di Rab’ah dan tidak pulang-pulang ke rumahnya di Alexandria kecuali setengah hari untuk menjenguk ibu dan langsung balik ke Rab’ah hari itu juga.

Hasan dicintai oleh semua orang karena kebaikan hatinya, suka tersenyum, senantiasa melayani orang-orang, dan suaranya yang rendah. Seumur hidupku saya tak pernah mendengar keluar cacian dari mulutnya kepada siapa pun. Suatu ketika setelah revolusi 25 Januari harga-harga melonjak tinggi dan langkanya tabung gas.

Saat itu Hasan berpikir untuk melayani warga setempat, akhirnya ia pun menemui direktur perusahaan gas. Hasan dan direktur perusahaan gas menyepakati 450 tabung gas untuk warga setempat yang dibagikan dengan harga 6 Pound per tabung di saat harga per tabung dijual dengan harga 25 sampai 30 Pound.

Pada hari pembagian tabung gas ke warga, kami berkumpul di depan masjid Utsman bin Affan menunggu datangnya mobil yang membawa tabung gas, dan warga mulai berdatangan dan berkumpul. Namun hari itu, kami dihalangi oleh sekelompok preman yang ingin menghentikan pembagian ini. Perdebatan pun berlangsung dan mobil tabung gas ditahan dari pukul dua siang hingga pukul sembilang malam. Hasan dan teman-teman lainnya dari Ikhwanul Muslimin yang berada di jalan menanti untuk melayani warga merasa berdosa dan lalai kepada warganya, hingga Hasan menangis karena peristiwa ini.Warga pun mulai berceloteh bahwa mereka melakukan ini karena pemilu. Setelah menunggu lama akhir atas karunia Allah akhirnya tabung gas pun dibagikan ke warga.

Selama di Rab’ah ia senantiasa melayani orang lain dan saat terjadi pembantaian Garda Republik ia juga ikut terluka. Saat terjadi pembantaian Rab’ah orang tuaku menyaksikannya, saat pertama melihat penyerangan, Hasan berlari ke arah tempat terjadinya penyerangan, ia berlari seperti seorang pecinta yang rindu dengan kekasihnya. Salah seorang temanya bercerita bahwa pembicaraan terakhir antara temannya dengan Hasan Hammam, Hasan bertanya kepada temannya itu,“apakah kamu tidak datang keRab’ah, saya sangat rindu bertemu denganmu.” Lalu dijawab temannya, “insyaAllah pasti saya akan datang.” Terakhir ia berkata kepada temannya, “jika terjadi dan Hasan gugur syahid maka Hasan akan menganggapnya sebagai keluarganya dan akan memberikan syafaat kepadanya dan menjadi salah satu dari 70 anggota keluarga yang mendapat syafaat.” Sungguh ia telah mengetahui akan tiba hari itu, dan ia benar dalam meminta syahid, maka Allah pun memenuhi permintaannya.

Mengenai As-Syahid Hasan Hammam, Ihab Jala' menulis mengenai sikap dan teladan dari As-Syahid Hasan Hammam. Kata Ihab,

Saya banyak belajar dari As-Syahid Hasan Hammam. Pelajaran terakhir yang saya ambil darinya adalah ketika salah satu pegawai masjid At-Taqwa yang berada di samping Rab’ah kehilangan handphone karena keteledorannya, lalu salah seorang ikhwah membelikannya handphone baru. Mengetahui itu, maka akh Hasan Hammam pun bersegera berlari di belakang al-Akh tadi yang membelikan handphone baru dan Hasan Hammam menyerahkan sejumlah uang kepadanya. Saya pun lalu bertanya kepadanya, “kenapa kamu menyerahkan uang ini, padahal petugas masjid tersebut telah lalai?” Ia menjawab, “petugas masjid ini membiarkan kita tidur di dalam masjid, juga menyalakan ac untuk kita.”
 
Foto dari kiri As-Syahid Hasan Hammam gugur dalam pembantaian Rab’ah dan kanan As-Syahid Muhammad Al-Tahami gugur dalam pembantaian Garda Republik.


Pendapat Orang tentang As-Syahid Hasan Hammam 

Pendapat tentang As-Syahid Hasan Hammam, Hamd Ragab salah seorang teman As-Syahid menulis:
Saudaraku dan kekasih hatiku Hasan Hammam telah gugur syahid. Demi Allah tak ada kebaikan di dunia ini dengan kehilangan orang sepertimu wahai Hasan, dan yang tersisa hanya orang-orang seperti yang telah membunuhmu atau diam atas pembunuhanmu.

Saya telah lama mengenal Hasan, pertama kali mengenalnya saat berada di kelas pertama SMA. Demi Allah saya bersumpah saya tidak pernah mengingatmu, tidak pernah melihat dan mendengarmu berbuat maksiat kepada Allah Azza Wa Jalla. Tapi kamu selalu tersenyum, menyenangkan dan memberi semangat, semua orang yang pernah berinteraksi dengan Hasan menjadi saksi akan akhlakmu yang baik, saya tak pernah melihat orang yang bergaul denganmu kecuali ia akan mencintaimu.

Kamu saudaraku Hasan lemah lembut kepada semua orang, menjaga janji, menjaga hubungan baik, kamu datang untuk mencari teman, walau setelah sekian lama, setelah sekian jauh. Demi Allah saya tidak tau mau berkomentar apa tentang dirimu, namun cukup menjadi saksi bahwa banyak pemuda yang karenamu Allah menjadikan mereka mendapat hidayah, menuntun mereka ke jalan kebenaran, dan meraka akan mendoakanmu dan akan menyangimu.[syuhadar4biah.com]
close
Banner iklan disini