Hany Farouq, Orator Pemberani yang Syahid di Medan Rabi’ah Al-Adawea



Islamedia.co - As-Syahid Dr. Hany Farouq adalah salah satu pemuda Ikhwan yang aktif berdakwah dan dikenal luas dengan kerja-kerja lapangannya dalam amal sosial, menyelesaikan masalah orang banyak dan melayani serta memberikan solusi atas krisis yang dihadapi masyarakat. 

Senantiasa rindu dengan kerja-kerja kemanusiaan baik di bidang kerjanya sebagai dokter hewan atau di kerja-kerja sosial lainnya. Berada di Rab’ah melakukan ribath (bertahan) fi sabilillah hingga ia menghadap kepada Allah sebagai syahid di Rab’ah pada tanggal 14 Agutus 2013. 

Dr. Hany berusia 37 tahun, lahir di desa Al-Jazair, Markaz Balqas Provinsi Daqhaleah, telah berkeluarga dan dikarunia empat orang anak, yaitu Ahmad yang telah berumur 10 tahun, Abdullah 8 tahun, Farouq 5 tahun, kemudian anak terakhirnya bernama Muhammad yang lahir sebulan setelah ayahnya syahid. 

Dr. Hany bekerja sebagai dokter hewan di Gamshah Center, ia juga menjadi ketua unit kedokteran hewan di Desa Mansha Abdul Qadir, mengikuti mayoritas bakti sosial kedokteran hewan secara gratis di seluruh desa-desa Kecamatan Balqas. 

Dan dia adalah orator ulung yang berimprovisasi dengan syair-syair dan sindiran Zajal, mengelilingi masjid-masjid kampung dan kampung yang berseberangan untuk memberikan nasehat dan menyeruh kepada Allah, juga membawakan pengajian dan ceramah-ceramah di masjid, berwawasan luas, memiliki kesadaran politik, juga menjadi aktifis dalam kerja-kerja politik dan pelayanan sosial di wilayah Balqas, ia termasuk anggota dewan pendiri Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP), berperan penting dalam menghadapi dan menyelesaikan krisis roti dan gas dan berbagai masalah lainnya yang terjadi di desa dan wilayah Balqas.

Saat kudeta militer terjadi, ia pun bergegas menuju Rab’ah Al-Adawiyah melakukan aksi damai bertahan bersama saudra-saudaranya dan tak pulang ke rumahnya kecuali dua kali selama masa bertahan di Lapangan Rab’ah Al-Adawiyah, tak hanya itu, ia juga membawa serta istri dan anak-anaknya, walaupun saat itu istrinya sedang mengandung anaknya yang kelima, istri dan anak-anaknya terus bersamanya hingga hari Selasa sehari sebelum pembubaran demonstrasi damai yang menewaskan ribuan jiwa rakyat Mesir.

Di Lapangan Rabi’ah Al-Adawea ia menggelorakan semangat saudara-saudaranya untuk keluar dari tenda dan tidak banyak tidur di dalam tenda, ia juga mencandai orang-orang yang duduk dalam tenda dengan puisi dan syair-syairnya dan sindiran zajalnya, dengan mengatakan: Tsuwaar Ahrar, Naimin Lailan wa Nahara (Revolusioner, Pembebas... yang tidur siang dan malam). 
 
Farouq Istimewa dengan keberaniannya pada hari pembantaian demonstrasi Rab’ah Al-Adawiyah, saat itu ia mengumpulkan batu-batu untuk mencegah pasukan militer maju mendekati panggung utama Rabi’ah Al-Adawiyah dan rumah sakit darurat, hingga tertembak dan wafat setelah Dzuhur tanggal 14 Agustus 2013 antara rumah sakit darurat dan masjid Rab’ah Al-Adawiyah. [syuhadar4biah.com]