“BLUSUKAN Mengais hikmah yang tercecer”


Islamedia - Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain
(QS: Al-Insyirah: 7)

Kerja-kerja dakwah tidak akan pernah ada habisnya, bahkan jauh sebelum hari ini ketika sang Rasulullah tercinta telah menggenapkan risalah yang telah di bawa dan diperjuangkan oleh para pendahulunya nabi dan Rasul. Ternyata perjuangan tak terhenti di titik itu.

Ada kerja-kerja dakwah yang tak akan pernah selesai untuk kami perjuangkan dan pertahankan. 

Pun hari ini, hari-hari kemarin dan hari-hari esok menjelang hajatan besar PEMILU telah menjadikan waktu-waktu kami teramat berharga untuk bisa membumikan Visi Misi kami kerumah para warga. Bukan sekedar membawa visi tanpa misi, pun bukan sekedar membawa jasad tanpa ruh. 

Lihatlah adakah diantara kader Partai Kaya Senyum yang membawa segepok uang, sebongkah berlian dan segenggam emas untuk menghipnotis para warga agar simpatik atau jatuh cinta kepada kami?, selain senyum dan doa yang selalu charge ketika akan menyambangi mereka. 

Memang sambutan tulus kami tak selalu disambut dengan senyuman, bahkan tak jarang pula ketukan-ketukan kami hanya mampu mengetuk pintu-pintu rumah namun masih belum mampu mengetuk pintu hati mereka, jika sudah seperti ini biasanya kami selalu memakai ‘Ayat-ayatNya’(red: Doa) semoga Allah melembutkan hatinya dan juga yang tak kalah ‘pamungkasnya’ kami tetap memakai ‘AYaT-KaTeeM’ (Red: AYTKTM) Apapun Yang Terjadi Kami Tetap Melayani. Karna bagi kami: 

Bila setuju
PILIHLAH kami
Bila ragu PELAJARI kami
Bila Simpati DOA KAN kami
Bila tidak Setuju
KAMI TETAP AKAN BERJUANG UNTUK ANDA
*Salam Senyum 3 Jari :D :D :D

Dengan 3 bekal utama yakni Doa, Ikhtiar dan Tawakal. Segala ujian-ujian kesabaran yang mencoba mematahkan semangat kami, telah menjelma menjadi serpihan serpihan hikmah yang makin menguatkan hati kami dan makin melangitkan doa-doa kami kepada Sang Pengabul doa. Banyak hikmah yang Allah berikan kepada kami saat kami berikhtiar melakukan kerja-kerja dakwah kami.

“Uangnya mana…?!?!”

Ya, hari itu ketika kami melakukan kegiatan kampanye keliling di daerah petukangan utara, kami menangkap ada berbagai macam segala rupa yang melihat kami. Ada yang memandangnya dengan senyuman yang hangat, ada yang begitu antusias melihat kami, ada yang melihat kami dengan sinis, bahkan ada yang terangan-terangan berteriak ‘minta uang’ kepada kami. 

Jika sudah seperti itu kami tetap memberikan senyum 3 jari terbaik kami kepada mereka sambil berkata ‘maaf,,ibu/bapak, kami tidak melakukan politik uang, kami akan tetap berjuang memberikan pelayanan kepada anda
:D :D :D
 
“Serangan Fajar…!!” 

Entah kenapa beberapa hari ini terpikirkan dengan fenomena “Serangan Fajar”.
Saya sempat berdiskusi dengan salah seorang teman tentang peristiwa di GBK. Ketika kami bisa dikatakan berhasil memutihkan GBK dengan target lebih dari perkiraan, lalu teman berkata ‘biasanya setiap PEMIRA selalu saja begini.., tapi entah kenapa jumlah semua yang hadir tidak menjanjikan dengan jumlah suara yang diberikan. Ya itu, karena orang-orang yang masih lemah komitmennya mudah tersapu dengan segenggam debu janji dari Serangan Fajar’ 

Lantas sekilas saya berfikir, mungkinkah jika kami menggunakan apa yang pernah dilakukan oleh khalifah Umar bin Khatab dahulu. Melakukan patroli keliling sebelum fajar, memastikan tiap rakyatnya tak ada yang kelaparan. Namun kini, patroli yang kami lakukan ialah ‘memastikan Tak ada pintu dan tangan yang dengan mudahnya terbuka’ untuk menyambut serangan fajar.

Atau jika tidak itu tidak mungkin. Semoga kami bisa menguatkan pintu dan tangan-tangan sebelum serangan fajar itu datang. Dengan melakukan pencerdasan kepada masyarakat. Yaa .. semoga. Dan dua perkataan yang sangat lekat dalam fikiran dan hati dari para guru atas kerisauan tersebut 

ketika yang lain menyerang dengan harta dunia (red-Serangan Fajar). Maka yang kita lakukan adalah gencarkan “ serangan “ ibadah kepada Allah. Karena Allah yang Maha menggenggam hati”
“Mereka saja yang orientasinya dunia, begitu 'serius'nya membuat makar menggelar rapat-rapat dan eksekusi memuluskan visi abu-abu mereka. Sedangkan kita yang in sya Allah, tujuannya adalah Allah, balasannya juga karena Allah. Harusnya bisa lebih kuat”
 
“Blusukan hingga kedapur warga: Menggoreng ikan dengan daun pisang”

Ada banyak hikmah dari bersilahturahim, blusukan bagi kami bukan sekedar kampanye yang hanya mengincar suara-suara warga. Namun, lebih dalam dari itu yang menjadi niatan dan motivasi kami dalam menelusuri rumah warga adalah silahturahim. 

Mendengar segala aspirasi mereka, berbahasa dengan baik terhadap mereka. Hingga kami menemui mereka di dapur yang tengah beraktivitas, Alhamdulillah ada banyak hikmah yang kami dapati saat menyambangi mereka.

‘Menggoreng Ikan dengan Daun Pisang’ salah satu cara tradisional jauh sebelum penemu penggorengan anti lengket menemukan Penggorengan Teflon. Caranya dengan menaruh daun pisanh di penggorengan dengan di lebarkan, lalu tuangkan minyak goreng dan panaskan kemudian ikan siap di goreng, dan jadilah penggorengan anti leket hanya seharga’ Daun Pisang’. 

*Salam Senyum 3 Jari :D :D :D *


 
Anjaniar Wirya Tenaya