Cerita Di Balik Lensa Kampanye PKS Putihkan GBK


Islamedia - Bismillah...

Gelora Bung Karno, 16 Maret 2014.

Pukul 06.30 saya sudah berada di ruang VVIP, briefing bersama orang-orang yang diamanahi menjadi fotografer Kampanye PKS. Briefing terakhir pagi itu memastikan semua orang memahami di mana mereka ditempatkan dan apa saja yang harus difoto. Selain itu kami juga diberi name tag panitia bidang Humas agar mempermudah pengambilan foto di masing-masing venue. Kami tidak hanya terdiri dari Fotografer, tapi juga diback up oleh tim di media centre yang berfungsi menerima hasil foto yang telah kami dapatkan di lapangan. Lalu mereka lah yang meng-upload-nya ke media sosial atau web yang sudah disediakan.

Saya waktu itu terbilang cukup culun jika dibandingkan dengan fotografer lain yang sudah bertahun-tahun belajar fotografi, bahkan banyak yang jadi kontributor di beberapa media cetak atau online. Tapi saya tetap semangat menggenggam erat D5200 di tangan kanan karena hari itu adalah momentum bagi saya untuk menikmati salah satu dari begitu banyak episode dakwah di Indonesia melalui lensa dan kamera yang saya bawa.

Pukul 07.30 WIB saya melangkahkan kaki ke Lapangan Merah GBK. Sejenak saya memandangi seluruh tribun atas dan bawah, stadion itu masih terbilang lengang. Jujur, waktu itu saya sempat merasa deg-degan.
Bagaimana jika sabotase yang dilakukan oleh lawan politik berhasil dan membuat stadion ini masih berwarna warni?
Tapi saya cepat-cepat menyingkirkan prasangka itu. Saya yakin, kemenangan itu dekat, insyaAllah. Lalu saya kembali ke media centre dan berbincang-bincang dengan tim yang lain.

Tak sampai satu jam kemudian, saya kembali lagi ke lapangan.
Allahu Akbaarr!!!
Hampir seluruh tribun diwarnai putih.. putih.. dan putih.


Sontak saya merasakan haru yang paling biru. Beberapa kali saya berkaca-kaca melihat makar-makar musuh luluh lantak di hadapan Kuasa Allah swt. Takbir, tasbih, tahmid tak henti mengalir dari bibir dan hati saya.

Saya mulai mengelilingi spot lapangan yang menjadi bagian saya dan beberapa orang lainnya untuk mencari momen-momen indah di acara ini. Saya menangkap atmosfer penuh cinta di Stadion ini. Sebagian ada yang terperangkap abadi dalam lensa, tapi sebagian besarnya lagi tak terekam karena saya begitu terpesona melihat tatapan cinta, tatapan rindu para peserta kampanye untuk mendengarkan orasi dan taujih dari para qiyadah partai.
Saya melihat cinta di pundak-pundak tegap para kepanduan. Ada cinta di balik genggaman tangan mereka saat membuat barikade untuk menjaga lapangan hijau. Ada cinta yang terayun penuh gelora di balik kuatnya lengan para pengibar panji di berbagai sudut stadion. Ada cinta yang terserak di seluruh sudut tribun, di balik senyum, tawa, juga pada tawadhu'nya para pecinta al qur'an.

Puncak Kampanye adalah saat Sang Presiden datang dari arah pintu biru menuju panggung. Kami sempat diberi arahan bahwa lokasi lapangan merah akan steril dari berbagai aktivitas fotografer maupun media. Oleh karena itu saya bersiap-siap di daerah antara lapangan merah dan lapangan hijau yang dijaga ketat oleh kepanduan. Mata saya menari-nari dari pintu ke pintu. Khawatir momen itu hilang di depan hidung saya.
Tapi saat itu saya tersadar bahwa antusias para peserta kampanye seperti tak terbendung. Pintu-pintu yang ada di bagian yang tadinya dikunci seperti tak kuasa menahan laju para kader dan simpatisan untuk melihat qiyadah mereka. saya melihat dengan jelas bagaimana para kepanduan bersusah payah menahan para peserta agar tak menerobos pembatas. Tapi sepertinya percuma.

"Kami ingin lihat Ustadz dari PKS..." teriak salah satu peserta.

Dan seperti yang saya prediksikan sebelumnya, barikade itu pun akhirnya bubar karena tak kuasa menahan arus massa dari luar. Momen itu pun berbarengan dengan datangnya Ustadz Anis Matta menuju panggung. Saya saat itu terlalu takjub melihat massa yang seperti air bah, datang dari segala penjuru. Bahkan saya melihat sendiri seorang kakek dengan kaos PKSnya melompat masuk dengan girang dan menari-nari. Saya kaget, bengong, dan lagi-lagi haru melihat atmosfer yang sarat dengan cinta ini.

Di tengah tsunami massa itu saya mencari-cari Presiden Partai. dengan keterbatasan tubuh saya yang tidak cukup tinggi ini, saya melompat-lompat untuk mencari sosok luar biasa itu berjalan. Tapi sia-sia... Lalu tiba-tiba saya mendengar MC berkata "Kita sambut.. Presiden PKS.. Anis Matta...."
Saya menepuk dahi lalu berlari menuju panggung dengan usaha maksimal menerobos dinding massa yang rapat berbaris dan berlapis-lapis.

Saat saya berdiri di panggung yang disediakan untuk fotografer, saya melihat sosok Presiden berdiri dan berorasi dengan aura yang menggelora. Lelah, panas, dan haus seperti hilang entah kemana. Bahkan saat hujan mulai turun membasahi Stadion, saya dan ribuan orang lain bertahan di depan panggung. Menenggak banyak-banyak energi yang ditumpahkan Presiden melalui orasinya.

Setelah puas, saya kembali berkeliling di lapangan. Kembali mencari momen yang terserak di GBK itu hingga MC menutup acara dengan salam.
Seluruh tim Humas berkumpul kembali di Media Centre, menyetor ratusan hingga ribuan frame yang terekam abadi di memory card masing-masing. Lelah kembali menyelimuti tubuh kami masing-masing tapi "reuni" dengan seluruh tim seperti morfin yang memompa energi berlebih kepada kami.
Dan percayalah, energi dari Gelora Bung Karno masih bersemayam di hati-hati kami hingga sekarang, hingga nanti.


Salam dari kami, Relawan PKS Foto.
Sekumpulan orang yang ingin berkontribusi dalam dakwah Islam yang tinggi. Kami bukan dokter, yang bisa membantu mengobati dalam pelayanan kesehatan di setiap RW di pelosok Indonesia. Kami juga bukan orang yang paham ilmu politik dan terjun ke senayan untuk memperjuangkan hak-hak rakyat di hadapan penguasa. Kami hanya memiliki kamera, dan kami memilih berkontribusi dengan yang kami punya.  



Katamso, 21 Maret 2014
@HikariAzzahirah
part of relawanPKSfoto.net
close
Banner iklan disini