Berlomba Menjadi Titik Putih


Islamedia - “Konsumsi dan makan siang gimana nih? Kan acara sampai siang dan kita bakal bawa banyak ibu-ibu?”

“Saya pesankan deh. Dua ratus paket ya?” (Dan uang konsumsi pun dia tanggung sendiri, nggak minta ke bendahara).
“Tolong bapak-ibu yang sudah jadi panitia yankes dan baksos jangan pulang dulu ya. Sehabis acara kita makan soto mie aja. Itu abang soto mie-nya sudah markirin gerobagnya” (Dan itu artinya, gerobag soto mie mendadak diserbu orang, baik panitia atau pengunjung. Ludes. Alhamdulillah, berkah bagi abang soto mie, berkah pula bagi yang menggratiskan soto mie pada yang hadir).
“Kita nambah bis satu lagi bisa? Ini ada saudara kita yang mau nyumbang untuk nyewa bis” (Padahal saya tahu, yang dia maksud ‘saudara’ adalah suaminya sendiri. Dan sewa bis besar itu nggak murah, kisarannya 1,8an juta untuk satu bis).
“Kita bikinkan kaos seragam yuk buat identitas. Biar gampang nandain orangnya. Satu kaosnya 30 ribu nih, kita butuh banyak. Yang mau ikut berpartisipasi, transfer ke rekening saya aja ya, nomor XXXXXXX” (Dan tahu-tahu sudah banyak yang transfer, dari 200 ribu, 500 ribu, 600 ribu, dst.)
“Bagaimana nih, stiker dan buletin kita sudah mulai menipis. Kan itu mau kita bagikan ke handai taulan. Mana waktunya tinggal besok,” curhatan seorang ibu di suatu rapat.

“Bu, ini ada 1 juta. Kita kejar cetak hari ini juga, besok sore sudah bisa diambil”, spontan seorang bapak peserta rapat, menyahut dengan cepat.

“Buat yankes besok, alat-alat cek darah sudah mulai menipis nih. Kurang kayaknya. Butuh 500 ribu lagi”

“Beli aja bu, ditalangi dulu ya. Nanti ada yang mau ganti” (Dan kwitansi pembelian alkes pun diperlihatkan, lalu serta merta seorang ibu mengeluarkan beberapa lembaran merah dari dompetnya).


“Pak, saya nyumbang tenaga aja ya. Bantuin pasang bendera di beberapa titik mulai nanti malam,” kata seorang pemuda dengan malu-malu. Dan beberapa malam menjadi saksi untuk keberaniannya memasang bendera di berbagai lokasi, hingga dini hari.
“Saya yang nyiapin bambunya aja yaa untuk pasang bendera. Kebetulan di dekat rumah saya ada pohon bambu,” timpal seorang bapak tua nan bersahaja, dari suatu kampung kecil. Dan niatnya ia tunaikan, telah ia siapkan bambu beberapa puluh batang.
Fenomena seperti ini, akhir-akhir ini makin sering saya dengar dan saksikan sendiri. Siapa mereka? Owh, caleg partai? Ya panteslah, kan mereka lagi cari simpati. Biasalah itu, keluar modal dulu biar dapet kursi.
Bukan! Mereka bukan orang-orang yang mengeluarkan uang karena mengharapkan perolehan kursi. Lalu siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang hanya ingin dicatat di langit, bahwa sebagian harta yang dititipkan pada mereka, telah mereka belanjakan dalam rangka menegakkan kalimatNya. Mereka hanyalah orang yang ingin tercatat di langit, bahwa ada penggal dari waktu dan tenaga mereka yang disumbangkan untuk menegakkan kalimat-Nya, tak hanya untuk kepentingan pribadi semata. Mereka hanyalah orang-orang yang ingin menjadi bagian dari satu titik putih, di antara lautan putih semesta yang semoga Allah meridhaiNya. Mereka adalah orang-orang yang berusaha mengkhatamkan wirid tilawah Quran 1 juz setiap harinya. Dan mereka adalah orang-orang yang hanya mampu menangis berurai air mata, saat di malam-malam yang sunyi berdoa, memohon belas kasih Sang Maha, agar apa yang telah diupayakan, meski masih jauh dari sempurna, mampu menggetarkan langit lalu permohonan mereka dikabulkanNya.
Karena mereka sangat yakin, manusia hanya menjalani taqdir, dan mempersiapkan diri memenuhi skenario-Nya. Karena mereka sangat yakin, bahwa musuh utama dalam perjuangan bukanlah kedigdayaan lawan, tetapi sifat pelit yang membenalu di dalam dada.

Maka sungguh, sunduquna juyuubunna, ‘dana-dana perjuangan kami adalah dari dompet-dompet kami sendiri’, hari-hari ini makin membahana saya saksikan di mana-mana. Mengingatkan penggal ayat dari surat yang begitu saya favoritkan sejak muda:

Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan apa saja yang kamu miliki….apa saja yang kamu infaq-kan di jalan Allah, niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tak akan dizalimi (Al-Anfaal 60)
Allahummasyhad, ya Allah saksikanlah…


Muktia Farid
close
Banner iklan disini