Hati-hati Dengan Ilful Ma'shiyah (Normalisasi Maksiat)



Islamedia - Baginda Rasulullah Saw pernah bersabda: "Jauhilah kalian tujuh dosa besar." Para shahabat bertanya: "Apakah tujuh dosa besar itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Menyekutukan Allah, sihir, membunuh manusia dengan jalan yang tidak dibenarkan, makan harta anak yatim, makan harta riba, lari dari medan perang dan menuduh perempuan shalihah berzina." [HR. Al-Bukhâri dan Muslim].

Hadits Rasulullah Saw di atas mengingatkan kita pada tujuh dosa besar yang harus dijauhi oleh setiap muslim. Tujuh dosa besar yang berakibat bahaya besar bagi kehidupan manusia di dunia dan Akhirat. Sayangnya dosa-dosa besar tersebut seolah tidak dihiraukan oleh sebagian umat Islam. Negara kita yang berkomunitas muslim terbesar di dunia justru dicap sebagai negara dengan tingkat kriminalitas yang relatif tinggi. Kasus kriminal seperti perampokan, pencurian, pembunuhan, pemerkosaan, dsb hampir tiap hari kita saksikan melalui media-media informasi. Fenomena yang sejatinya membuat miris hati setiap muslim yang ikhlas dan perhatian terhadap umatnya. Kasus dosa-dosa besar yang dilarang keras oleh Rasulullah tersebut justru menjadi konsumsi informasi setiap orang di Negara kita.

Ironisnya setiap media berlomba-lomba mencekoki masyarakat dengan menayangkan peristiwa-peristiwa anarkis di atas. Belum lagi tayangan pornografi dan pornoaksi yang kian hari makin mewabah, menjangkiti pikiran dan prilaku masyarakat. Sementara tidak ada Televisi Islam Nasional yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, yang menyebarkan ajaran dan nilai-nilai Islam, yang menandingi tayangan-tayangan tidak bermanfaat tersebut, serta sebagai media informasi alternatif bagi kaum muslimin. Akhirnya ketika berita-berita dan tayangan-tayangan dosa besar itu telah biasa di dengar dan disaksikan masyarakat, merekapun menganggap semua itu hal biasa dan normal-normal saja, padahal semua itu adalah dosa-dosa besar yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Matahari terbit dari timur bagi seluruh umat manusia dianggap fenomena alam biasa dan normal karena terjadi setiap hari. Padahal peristiwa ini merupakan fenomena alam luar biasa yang menunjukkan kemahakuasaan Allah dalam mengatur alam semesta, bagi orang-orang yang berfikir. Baru ketika fenomena yang biasa berubah, manusia akan menyadari bahwa segala kejadian di alam semesta ini adalah perkara-perkara luar biasa yang menunjukkan kekerdilan manusia di hadapan Sang Maha Pencipta. Demikiaan pula fenomena-fenomena alam lainnya seperti, pergantian siang dan malam, perjalanan awan, bergeraknya angin, gunung yang tenang dan menancap kokoh, dsb.

Seperti itulah Ilful Ma`shiyah yang ingin disampaikan olah tulisan kecil ini. Ilful Ma'shiyah adalah istilah bahasa Arab yang artinya normalisasi maksiat. Istilah ini muncul akibat banyaknya maksiat di muka bumi sehingga oleh sebagian orang dianggap sebagai peristiwa normal dan biasa-biasa saja. Setiap hari kita menyaksikan di Televisi berita-berita mengerikan dan merupakan dosa besar, tayangan-tayangan bernuansa kekerasan, kesyirikan, gelamor dunia, pornografi, pornoaksi, minumman keras, ekstasi dan lain sebagainya. Sayangnya, semua itu di zaman sekarang seolah merupakan fenomena yang dianggap biasa dan normal-normal saja. Setiap hari saudara-saudara kita dibantai oleh Yahudi di negeri Palestina, namun mungkin sebagian kita bahkan ada yang tidak tahu apa itu Palestina. Apalagi mau perhatian dengan penderitaan sesama muslim.

Korban paling memprihatinkan adalah anak-anak kita, generasi masa depan, yang akan mengganti posisi kita menegakkan panji-panji Islam. Anak-anak yang semestinya belajar banyak tentang akhlak mulia, budi pekerti, sopan santun, ketaatan beribadah, bakti kepada orangtua, kedermawanan, keshalihan sosial, dll, mereka harus mengenyam pendidikan dan pengalaman yang tidak normal melalui media-media tersebut. Akibatnya, saking biasanya peristiwa-peristiwa dan tayangan-tayangan itu mereka saksikan, semua itu kemudian mereka anggap sebagai peristiwa yang normal dan biasa-biasa saja, sehingga tidak heran bisa saja suatu hari mereka akan mencoba hal-hal yang dianggapnya biasa itu.

Melihat fenomen-fenomena yang memperihatinkan itu, apakah yang bisa diperbuat oleh setiap muslim, guna menghindari wabah ilful ma'shiyah ini? Banyak hal yang bisa dilakukan. Untuk sekala individu, keluarga dan masyarakat, bahkan negara, Al-Quran paling tidak mengajarkan dua metode efektif yang dapat menanggulangi krisis umat ini, yaitu:

(1) Nasihat-menasihati dalam kebaikan dan kesabaran (istiqomah dalam kabaikan), sebgaimana yang diajarkan melalui suat Al-`Ashr. Kewajiban ini bukan hanya tugas dai yang berceramah di masjid-masjid. Tetapi merupakan tugas seluruh individu umat. Individu terhadap diri sendiri, terhadap keluarga (suami, istri, anak), terhadap tetangga, sahabat, masyarakat, bahkan pemerintah. Allah bahkan menjadikan hal ini adalah syarat tidak merugi dalam kehidupan dunia. Allah Swt berfirman: "Demi masa. Sesungguhnya seluruh manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih serta nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (keteguhan dan keistiqomahan memegang kebenaran)." [QS. Al-`Ashr: 1-3]

(2) Amar Ma'ruf (dengan cara yang ma'ruf (baik) dan Nahyu `anil Mungkar (tidak dengan cara yang mungkar). Kewajiban ini juga merupakan tugas seluruh individu umat. Bahkan tugas utama negara yang memiliki kekuasaan dan kekuatan. Allah Swt berfirman: "Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..." [QS. Âli `Imrân: 110]. Kaum Yahudi dilaknat oleh Allah karena mereka tidak melaksanakan solusi yang diajarkan oleh Allah ini. Di dalam al-Quran mereka disindir: "Mereka tidak saling mencegah terhadap kemungkaran yang mereka lakukan, sungguh buruk apa yang mereka perbuat." [QS. Al-Mâ'idah: 79]
Amar Ma'ruf (dengan cara yang ma'ruf) dan Nahi Mungkar (tidak dengan cara yang mungkar) adalah dua kewajiban yang tidak bisa dipisahkan. Kedua-duanya harus berjalan bersama-sama untuk menjaga stabilitas kehidupan umat. Jika kewajiban ini tidak dijalankan, maka bisa saja umat ini dilaknat dan dihancurkan seperti umat-umat terdahulu—kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal ini. Amar ma'ruf nahi mungkar adalah salah satu solusi yang tepat dari keterpurukan moral bangsa yang dapat menggiring kepada jurang kehancuran.

(3). Mendidik anak di atas ajaran Islam yang benar, mengajarkan tatakrama dan akhlak mulia. Ajarkan mereka akidah yang benar, ibadah yang sesuai sunnah, pemikiran yang lurus, wawasan yang luas, berdikari, cinta pada Allah, Rasul-Nya, Al-Quran, Sunnah dan pada Umat Islam, serta berbuat baik pada umat manusia pada umumnya.  

(4) Yang juga sangat penting ialah mengontrol aktivitas menonton TV anak. Jangan biarkan mereka bebas menonton tayangan apa saja Televisi. Karena tidak diragukan lagi bahwa TV walaupun banyak manfaatnya, tetapi keburukannya juga tak kalah besar. Disinilah terlihat sejauh mana tanggung jawab dan kesabaran orangtua dalam mendidik dan membina generasi masa depan mereka.

(5). Dibutuhkan Televisi Islam Nasional independen yang bergerak dalam bidang dakwah islamiyah yang shahih, memberi pencerahan bagi umat, menayangkan program-program acara yang bermanfaat, menyatukan umat, dan terpenting ialah menjaga aset umat tersebut agar tidak dipegang oleh orang-orang yang tidak beriktikad baik terhadap Islam. Demikian juga dengan media-media yang lain seperti, radio, koran, majalah, situs, blog, mailist, semarakkan semua itu untuk kejayaan Islam, dengan syarat, sampaikan kepada umat ilmu yang kita punyai, bukan yang tidak kita punyai. Karena berbicara tentang Agama tanpa ilmu juga termasuk dosa besar.  

(6) Terakhir—namun bukan tugas terakhir—kullun ya'malu `alâ syâkilatih (setiap orang harus bekerja dengan ikhlas, berjibaku dan profesional dalam bidang masing-masing). Pemimpin memimpin dengan adil, pegawai bekerja dengan ikhlas, ekonom berjihad membangun ekonomi bangsa, pedagang berdagang dengan jujur, petani bercocok tanam dengan sungguh-sungguh, guru mendidik dengan ilmu dan tauladan yang baik, siswa menuntut ilmu dengan rajin, tetangga bertetangga dengan baik, masyarakat bermasyarakat dengan baik, dst. Jangan berikan tanggung jawab pada orang yang bukan ahlinya. Manusia muslim  adalah seorang yang berpikir positif, membangun-tidak meruntuhkan, memperbaiki-tidak merusak, mendidik-tidak mengabaikan, menyatukan-tidak memecah, bekerja-tidak hanya mencela, dan semua yang ia lakukan pada akhirnya adalah untuk Allah demi keselamatan diri dan umatnya. Wallâhu a'lam.

Penulis, Lalu Heri Afrizal, Lc. Mahasiswa Pascasarjana The Institute for Islamic Studies Az-Zamalik, Mesir. Aktivis Studi Informasi Alam Islami (SINAI) Mesir.

Baca Ini Juga ...: