Senja di Tepi Danau Michigan



islamedia.co - “ Duduk di sini saja Sarah, ” Pamela Lee-Haughton berhenti berjalan. Di hadapannya sekarang telah ada sebuah bangku panjang bercat putih berdiri kokoh di tengah rerumputan yang menghadap ke tepi Danau Michigan. Sore itu dia dan pasiennya, Sarah Brightman, tengah berjalan-jalan di Michigan Park yang berada di tepi Danau Michigan.


Sarah duduk perlahan di bangku panjang itu. Penampilannya sederhana sekali. Dia memakai rok panjang bermotif bunga-bunga coklat dipadu dengan atasan kaus turtle neck. Sebuah scarf berbahan licin dengan motif bunga-bunga menutupi kepalanya. Sebuah syal wool melingkar di lehernya.


Pamela hanya bisa menatapnya saja. Sarah merupakan pasien baru di tempatnya bekerja, Germaine Nichols Rehabilitation, sebuah tempat untuk orang-orang yang kecanduan drugs. Dua hari yang lalu orang tua Sarah membawanya kesini. Lalu Mrs. Elaine Joyner, kepala di rehabilitasi itu menyuruh Pamela merawatnya. Mrs. Joyner hanya memberikan data yang sedikit tentang Sarah. Dia berasal dari keluarga kaya di Boston. Seorang mahasiswi sophomore di Harvard University jurusan Astronomi. Gadis yang cemerlang. Tapi sayang dia harus mengalami kecanduan. Mrs. Joyner hanya mengatakan bahwa Sarah hanya kecanduan. Dan Mr dan Mrs Brightman membayar mahal perawat yang akan menjaganya.


“ Kau suka suasana hari ini Sarah? “ Pamela memulai pembicaraan. Dua hari belakangan ini dia tidak pernah mendengar Sarah berbicara. Kecuali kalimat “ Dia mencintaiku,” yang sering sekali diucapkannya.


Sarah tak bergeming. Dia masih menatap lurus ke depan. Ke tepi tanpa batas di Danau Michigan. Ada sinar di kedua bola matanya.


“ Kau tidak suka padaku Sarah? “ Pamela berusaha menggali pertanyaan lagi. Tapi yang didapatinya lagi-lagi sebuah kenihilan. Sarah masih tetap tak bergeming.


“ Baiklah, mungkin kau sedang menikmati suasana senja ini. Memang sangat indah. Michigan memang satu tempat terindah di negara ini. ” kata Pamela. Dia pura-pura menghirup udara senja hari. Matanya masih mengawasi Sarah.


“ Dia mencintaiku,” setelah beberapa saat Sarah berkata. Sangat pelan. Tetapi untuk suasana hening di tepi danau, suaranya bisa terdengar oleh Pamela.


Pamela tersedak. Itu lagi yang dikatakannya. Selalu begitu sejak awal dia masuk ke tempat ini. Kalimatnya selalu sama, He does love me. Tanpa sedikit pun Pamela tahu apa maksudnya. Sore ini dia tergelitik untuk bertanya, setelah selama ini dia tak pernah menghiraukannya.


“ Who does love you Sarah? “ tanya Pamela sembari memalingkan wajah ke arah Sarah. Menatapnya lekat.

Sarah tetap terdiam. Mulutnya berkomat-kamit sendiri. Like a spell! Pikir Pamela. Tapi dia tak tahu apa yang diucapkannya.





“ Siapa Sarah? “ desak Pamela pada akhirnya.


Sarah mulai memalingkan wajahnya. Tersenyum tipis ke arah Pamela masih dengan matanya yang bersinar. Sebait kata kemudian terlantun dari bibirnya yang mungil.


“ He, “ hanya itu tak lebih. Dia lalu berpaling lagi.

He? Dia? Siapa dia? Kening Pamela berkerut. Dia tersesat pada sebuah jawaban yang membingungkan. Dia siapa yang dimaksud Sarah?

“ Dia siapa maksudmu? “ tanya Pamela lagi. Dia tak ingin tersesat pada sebuah jawaban yang membingungkan.

“ Dia saja,” Sarah tidak berpaling.

“ Kekasihmu? Temanmu? Siapa dia? Can you give some explain, please? “ bujuk Pamela.

“ More than lovers…more than friends…Dia saja,” tak lebih keterangan yang diberikan Sarah. Membuat Pamela semakin tersesat pada sebuah jawaban.


Lebih dari kekasih? Lebih dari teman? Suamikah? Anakkah? Atau apakah Sarah sudah tidak perawan lagi. Lalu sang kekasih meninggalkannya pergi. Atau kekasihnya sudah meninggal dunia dan meninggalkannya sendiri? Ah, Pamela menjadi pusing sendiri.


“ Besok Mrs. Joyner akan meminta laporan tentang kau dariku. Apakah kau punya ide apa yang harus kukatakan Sarah? “ Pamela mengalihkan pembicaraan. Dia tak ingin lebih tersesat lagi. Dia tahu, Sarah tak akan memberikan jawaban yang lebih jelas lagi.


Sarah masih terdiam. Matanya memandangi ketenangan air yang berkilauan diterpa cahaya matahari. Sesekali dia juga melihat ke arah gugusan angsa yang terbang ke selatan. Seukir senyuman menghiasi bibirnya. Hembusan angin memainkan scarf di kepalanya.


“ Katakan apa yang kau mau, “ jawab Sarah pada akhirnya.


Pamela mengangguk pelan. Dia senang Sarah akhirnya mau berbicara, walaupun hanya sebentar. Selama dua tahun bekerja di tempat ini tak pernah dia mendapatkan pasien setenang Sarah dan sehemat Sarah dalam berbicara.


“ Ok, akan kukatakan sesuai dengan realita. Kau sudah tidak kecanduan lagi. Mungkin Mrs. Joyner akan memperbolehkanmu pulang. Hanya saja akan kukatakan juga padanya bahwa kau terlalu hemat dalam berkata-kata.” Pamela mencoba untuk bergurau. Dia tertawa kecil. Hanya saja Sarah tidak meresponnya. Dia berhenti tertawa.


“ Tapi aku masih kecanduan. Mrs. Joyner pasti tidak akan memperbolehkan aku pulang. Dan kurasa aku tak ingin pulang. Akan ada masanya aku pergi dari tempat ini. Tapi bukan pulang, melainkan pergi ke suatu tempat untuk bertemu yang mencintaiku,”


Pamela sedikit terkejut dengan kata-kata yang diucapkan Sarah. Jawaban terpanjang yang diterimanya selama ini. Tapi? Masih kecanduan? Bahkan Pamela bisa menjamin seratus persen, sejak datang ke sini hingga saat ini dia tidak pernah melihat Sarah menggunakan obat-obatan terlarang. Kecuali memang hanya melakukan gerakan-gerakan aneh yang rutin sambil menutupi hampir semua bagian tubuhnya. Tapi menurut Pamela hal itu tidak membahayakan.


“ What do you mean with still addicted? I don’t understand. I never watched you use some drugs since you came in here.” Tanya Pamela lagi. Tapi dia baru menyadari bahwa Sarah kemungkinan besar tak akan menjawab pertanyaannya.


Tetapi Pamela keliru.


Sarah tersenyum. Dia balas menatap wajah Pamela yang terlihat bingung dengan pakaian seragam terusannya berwarna hijau pastel.


“ You so innoncent Pam. Mrs. Joyner tidak memberitahumu. Kau tidak pernah heran kenapa orangtuaku mau memberikan bayaran tinggi untuk menjagaku? Aku bukan kecanduan hal-hal seperti itu. Aku kecanduan sesuatu yang lain. Sesuatu yang bisa membuatku berpikir bahwa aku rela mati untuk candu itu. Sesuatu yang sangat ditakuti orangtuaku. Some other things.” Jelas Sarah.


Pamela terkejut untuk kedua kalinya untuk jawaban yang tak dikiranya. Dia lalu berpikir cepat.


Candu yang lain? Mrs. Joyner tidak berkata apa-apa selain mengatakan bahwa Sarah Brightman kecanduan. Setelah itu dia tidak berkata apa-apa lagi. Lalu Mr dan Mrs. Brightman hanya mengatakan jaga Sarah dan keduanya akan membayar Sarah mahal. Tak lebih. Lalu apa yang dimaksud Sarah? Apakah dia kecanduan hal yang lain? Yang lebih membayahakan? Sex? Sarah tak bisa membayangkan. Untuk kedua kalinya pikirannya tersesat..


“ Lalu apa? “ tanya Pamela semakin antusias. Hari ini ia ingin menuntaskan rasa ingin tahunya.


Sarah kembali diam. Pamela rasa dia berpikir. Suasana di Michigan Park masih tetap tenang dan damai. Di ufuk Barat matahari mulai menurun. Pamela ingin jawabannya tuntas sebelum malam tiba.


“ Kau pernah berpikir untuk apa kau hidup Pam? “ tanya Sarah dalam.


Pamela terdiam sesaat kemudian, “ untuk bekerja dan meneruskan keturunan. Membahagiakan sesama dan orang-orang yang kau cintai.”


“ Kau pernah berpikir untuk meninggalkan dan mengabaikan orang yang memberikan segalanya padamu? Orang yang saat kau menghianatinya dia dengan mudahnya memaafkanmu dan bahkan menambahkan kecintaannya? Orang yang setiap hari rasa cintanya bertambah untukmu? Pernah Pam? “ seperti pisau kalimat yang dilontarkan Sarah pada Pamela.


“ Tak mungkin. Aku tak akan mungkin pernah bisa meninggalkan orang seperti itu ! ” jawab Pamela. “ Tapi apakah orang seperti yang kau maksud ada? Apakah dia yang selalu kau katakan ‘mencintaimu’ ? “


Sarah membeku kembali. Membuat suasana hening dan tak bergeming. Hanya ada suara tiupan angin. Pamela menunggu dengan tidak sabar.


“ Ada sesuatu yang seperti itu. Bahkan melebihi itu. Dan aku kecanduan hal tersebut. Yang menurut orangtuaku lebih parah daripada sekedar kecanduan drugs. Yang membuat mereka risau. Karena mereka tahu, candu ini yang akan bisa membuatku berpisah dari mereka.” pelan Sarah berkata. Matanya tertuju ke langit jingga di angkasa raya.


“ Candu apa itu? “ tanya Pamela. Dia tahu Sarah adalah anak satu-satunya dari keluarga Bright. Hingga wajar bila karena candu ini Mr dan Mrs Bright takut berpisah dengannya.


Sarah tak segera memberi jawaban. Matanya tak lepas memandang alam sekitar. Lalu sebulir air jatuh dari matanya yang bersinar.


Pamela takjub. Sarah menangis. Apa yang membuatnya menangis? Candu itukah?


“ Pam, kau yakin ada kehidupan setelah kau meninggalkan dunia ini? “ satu pertanyaan lagi dilontarkan Sarah. Pamela tersentak. Sangat filsafat sekali.


“ I’m not really sure. Mungkin setelah mati kita hanya menjadi bangkai saja. Setelah itu melebur bersama tanah. No more life again. Tinggal ruh kita berada di tangan Tuhan. Tapi aku tak sepenuhnya percaya Tuhan. Bagiku hal-hal seperti itu sangat absurd dan nol besar.” Jawab Pamela. Dia memang seorang Katholik, tetapi selama di Germaine Nicols dia mencoba untuk menjadi Atheis sepenuhnya.


“ Jawaban yang tidak bijak.” Sarah berpaling ke arah Pamela. “ Siapa yang menciptakanmu dengan begitu sempurna? Kau mau karya lukisanmu yang bagus diberikan percuma tanpa bayaran? “ Sarah terlihat sedikit ketus. Pamela tak tahu harus berbuat apa.


“ Aku tidak naif Sarah. Im just like an ordinary girl in America. Agama adalah sesuatu yang tidak begitu penting.” Jawab Pamela pada akhirnya.


“ Tapi pernahkah kau berpikir tentang surga dan neraka ? “ tanya Sarah lagi. Pamela hampir tak percaya saat Sarah mencecarnya terus.


“ Tergantung pribadi masing-masing Sarah. Tapi bagiku,….” Kata-kata Pamela terhenti. Kenapa dia jadi ragu untuk mengatakan bahwa neraka dan surga memang tidak ada?


“ Kau orang yang nol besar Pam! “ kata-kata Sarah menyerang Pamela yang terlihat sedang kebingungan. Lalu dia terdiam.


Pamela nyaris tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Sarah memang gadis yang cerdas. Dia tidak mungkin meneruskan perbincangan tentang keyakinan tadi. Lalu suasana hening untuk sesaat.


“ Lalu candu apa yang membawamu ke sini ? “ Pamela bertanya lagi pada akhirnya. Dia ingin menggali informasi lebih banyak dari Sarah sore ini.


Sarah kembali terdiam. Wajahnya masih lurus memandang Danau Michigan. Butir-butir bening semakin banyak berloncatan dari mata beningnya.


“ Apa kau akan percaya padaku setelah aku mengatakan apa yang menjadi canduku? “ tanya Sarah tanpa menoleh. Pamela hanya mengangguk, tapi dia segera tersadar bahwa Sarah tak akan melihat anggukannya.

“ Eh, ya. I try.” Jawab Pamela.


Sarah terdiam lagi beberapa saat. Pandangan matanya lalu dialihkan ke atas mega jingga yang memenuhi hampir sebagian langit. Haruskah dia berkata pada Pamela? Seorang perawat yang belum terlalu lama dikenalnya? Mungkinkah Pamela bisa membantunya? Ada segudang pertanyaan timbul di benak Sarah. Tapi langit jingga menjadi jawaban untuknya.


“ Aku kecanduan Rindu akan sebuah Dzat, ” Sarah berkata pada akhirnya. Tak lebih. Dia lalu kembali terdiam. Sekarang dia menyerahkan sepenuhnya penafsiran kepada Pamela.


Pamela mengerutkan keningnya. Rindu Dzat? Apa yang dimaksud Sarah? Dzat apa? Apakah dia termasuk pemuja sesuatu dzat? Pengikut suatu sekte? Pamela semakin tak mengerti dengan yang terjadi pada Sarah. She so complicated. Pamela bertambah runyam.


“ Satu saat kau juga akan mengerti Pam. Aku percaya pada gadis cerdas sepertimu. Hanya saja kau tinggal menunggu waktu yang tepat. Kau juga akan mengalami candu itu. Karena itu adalah candu yang memang harus diderita oleh semua manusia. Semua orang yang berakal akan mengalami kecanduan seperti yang kualami. ” Sarah seolah membaca kebingungan Pamela. Tapi alih-alih menjawab kebingungan Pamela, Pamela bertambah bingung dengan kalimat terakhir yang dikatakan Sarah.


Sarah lalu bangkit. Dia sedikit merapikan busananya. Dia menatap Pamela sekali lagi lalu berpaling.


Pamela mengikutinya. Dia melirik ke arah jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Enam lima belas menit.. Dia tahu sebentar lagi, sesampainya di panti, Sarah akan melakukan gerakan-gerakan yang aneh lagi. Tapi itu sudah biasa baginya. Dia masih ingin tahu tentang Sarah lebih banyak. Mungkin kali lain. Dia akan mengajak Sarah berbicara lebih banyak. Awal pembicaraan saat senja di tepi Danau Michigan baginya sudah menjadi awal yang baik. Masih banyak waktu untuk kembali lagi ke sini.


“ Baiklah Sarah, sudah saatnya kita kembali ke panti. “ ujar Pamela pada Sarah yang memang sudah bersiap untuk kembali.


Lalu dalam hening keduanya berjalan beriringan. Matahari sudah semakin tenggelam. Bunyi suara angSa terdengar samar-samar di angkasa. Jingga hampir sepenuhnya berubah menjadi abu-abu. Beberapa anak muda yang ingin berkemah terlihat sudah mulai memasang tendanya. Keduanya masih berjalan dalam diam dengan Pamela masih menyimpan seribu tanya yang ingin dikatakannya kepada Sarah.


***


Pamela Lee-Haughton berjalan gontai memasuki sebuah ruangan yang terletak di sudut panti. Hari ini dia akan berpamitan dengan Mrs. Joyner. Dua hari yang lalu dia sudah mengajukan surat pengunduran diri sebagai perawat di Germaine Nichols. Alasan yang diberikannya pada Mrs. Joyner hanyalah dia ingin mencari suasana baru. Dan seperti biasa, tanpa banyak tanya Mrs. Joyner memperbolehkannya. Walaupun sebenarnya Mrs. Joyner tak ingin kehilangan perawat sehebat Pamela, tapi dia harus profesional. Dan hari ini Pamela sudah harus pergi.


“ Silakan masuk Ms. Haughton, ” suara parau Mrs. Joyner terdengar dari balik pintu. Wanita tua itu terlihat sedang duduk membelakangi meja kerjanya. Sebuah kacamata bertengger di hidungnya. Rambutnya yang dulu hitam sekarang sudah sebagian memutih. Tapi guratan ketegasannya masih sangat terlihat jelas di mata Pamela.


Pamela tersenyum kecil. Dia lalu duduk di kursi yang ditunjuk oleh Mrs. Joyner. Memang sulit baginya untuk berpisah dengan Germaine Nichols termasuk dengan Mrs. Joyner. Tapi ada satu hal yang menyebabkan dia harus pergi dari sini.


“ Baiklah, kau harus pergi sekarang. Kuharap kau bisa menemukan tempat yang lebih baik dari sini. Sayang, Germaine Nichols akhirnya harus kehilangan seorang nurse sehebat kau. Beruntung sekali tempatmu nanti bekerja mendapat orang sehebat kau. “ untuk pertama kalinya Mrs. Joyner tersenyum pada Pamela.


Pamela memerhatikan dengan seksama setiap air muka Mrs. Joyner. Dia ingat kejadian dua tahun yang lalu saat Mrs. Joyner memarahinya habis-habisan.


Ketika itu Pamela baru saja membuka mata di kamarnya saat Mrs. Joyner berteriak padanya. Dia sama sekali tak tahu apa yang terjadi. Lalu seorang rekan perawat memberitahunya bahwa pasien Pamela, Sarah Brightman telah melarikan diri! Pamela terkejut bukan main. Padahal hari itu dia sudah berencana untuk bertanya lebih banyak pada Sarah setelah kemarin harinya mereka berdua berbincang-bincang di tepi Danau Michigan. Tapi…… Bukan hanya Mrs. Joyner yang memarahinya, Mr dan Mrs. Brightman juga langsung mendampratnya. Pamela sungguh tak mengerti apa maksud Sarah melarikan diri. Di kamarnya, Pamela menemukan surat yang ditulis khusus untuknya :


Dear Pam,


Maafkan aku sebelumnya. Aku tak ingin menyusahkanmu sebenarnya, tapi candu itu membuatku harus melarikan diri. Kau tak perlu takut dengan keadaanku nanti karena ada yang mencintaiku akan selalu bersamaku. Maaf Pam.


Pam, aku tahu kau pasti ingin tahu apa candu yang membuatku jadi begini. Maaf kalau sebelumnya tak pernah bicara denganmu. Tapi hari ini akan kusebutkan candu itu.


Semoga kau bisa mengerti dan senja di tepi Danau Michigan bisa menjadi awal jalan untuk kau mengikuti jejak langkahku.



Yours truly,

Sarah


Pamela saat itu sangat terkejut luar biasa. Sarah menyimpan harapan padanya. Lalu selembar lagi kertas jatuh, dan disitu tertera sebuah coret-coretan dan kata yang menjadi candu bagi Sarah selama ini. Akhirnya Pamela pun mengetahuinya.


Dan sejak itulah Pamela mulai mencari informasi lebih banyak tentang candu tersebut. Hingga akhirnya, dia menemukannya. Dan sekarang dia baru merasakan hal seperti yang dialami Sarah. Dia juga sudah menjadi pecandu!


“ Pam,”


Pamela tersentak. Dia tersadar dari lamunannya. Mrs. Joyner menatapnya lagi.


“ Kau baik-baik saja Pam? “ Mrs. Joyner terlihat sedikit khawatir.

“ Eh, ya, aku baik-baik saja. Don’t worry.” Kata Pamela gelagapan.


Setengah tidak yakin Mrs. Joyner memperhatikan wajah tirus Pamela. Gadis itu baginya terlihat kurang sehat. Sepertinya pelarian Sarah Brightman berdampak juga baginya.


“ Baiklah, jika kau baik-baik saja. Ini Pam, uang gajimu yang terakhir. Kuberikan dua kali lipat untukmu. Ini juga ada kiriman dari Pendeta Samuel Brightman dan istrinya Sharon, sebagai tip untuk dirimu dulu saat menjaga Sarah. Maaf kalau aku menyebutkan namanya lagi. Mungkin kau berusaha untuk melupakannya. Maaf.” Mrs. Joyner memberikan dua amplop putih kepada Pamela, sedikit penyesalan terlihat di wajah tuanya.


Pamela agak ragu untuk menerimanya. Tapi dia memang butuh uang yang sudah menjadi haknya.


“ Aku terima gajiku saja. Saat ini aku tidak butuh banyak uang. Uang dari Mr dan Mrs. Brightman kusumbangkan saja semuanya untuk panti ini.” Agak ragu Pamela mengambil satu amplop putih.


“ Terserah kau Pam. Kuharap selepas dari sini kau menemukan tempat bekerja terbaik bagimu. Aku berdoa untukmu. Satu hal lagi, aku minta maaf untuk masalah Sarah Brightman tempo hari. Aku dalam kondisi yang panik dan tidak rasional. Tolong maafkan aku. “ Mrs. Joyner terlihat sedikit memelas.


Pamela hanya tersenyum. Baginya Sarah Brightman memberikan kesan yang tersendiri untuknya. Kesan yang membantu dia menemukan jalan kedamaian pada akhirnya setelah dua tahun dia mencari candu itu. “ Doesn’t really matters Madame,”.


Lalu Pamela pamit pada Mrs. Joyner. Untuk pertama kalinya Pamela melihat Mrs. Joyner menangis. Setelah keduanya berpelukan, Pamela segera pergi.


Suasana di alam Michigan terlihat begitu sejuk. Sebentar lagi malam akan menjelang. Saat winter begini Pamela berharap bisa menemukan kehangatan dengan segera. Dia berjalan perlahan menuju halte bis yang tak jauh dari Michigan Park. Saat melihat tempat tersebut ada berjuta kenangan tentang Sarah menyeruak kembali. Sebuah skenario yang menuntunnya untuk menuju ke jalan kedamaian.


Pamela merapikan lagi topi woolnya. Sebentar lagi dia akan menemukan kehangatan. Sore itu dia memakai jas, sepatu boot, wool dan topi kupluk. Dia akan segera ke Illinois. Menemui rekannya, calon keluarganya, kehangatan, dan orang sudah lama dia rindukan. Setelah itu dia akan menemui keluarga besarnya di Chicago untuk berpamitan.


Pamela mengeluarkan sebuah surat yang diterimanya tiga hari yang lalu…


Akan menikah Aisha Kabeer (Sarah Brightman) dengan Muhammad Ramadhan (Alexander Creek) di Hall Islamic Center Illinois tanggal 9 November.


Akan ada tangis bahagia untuk Sarah dan dirinya. Tentang sebuah candu kerinduan akan sebuah Dzat. Dia ingat pembicaraan di telepon tadi pagi dengan Sarah.


“ Aku ingin datang ke pesta pernikahanmu,”

“ Aku menunggumu,”

“ Tapi aku ingin menjadi seperti dirimu terlebih dahulu. Aku sudah menjadi pecandu…”

“ Pam? You? Subhanallah!!! Allahu Akbar!!! “

Keduanya lalu sesegukan.


Bis yang menuju Illinois tiba di halte Michigan. Dengan sigap Pamela dan beberapa orang lain naik ke dalam bis itu. Selamat tinggal Michigan. Sebuah memori indah tentang hidayah tak akan terlupakan di sanubari Pamela.


Sebuah kertas terjatuh dari tas Pamela yang tak tertutup dengan sempurna. Bis lalu berangkat. Kertas itu melayang tertiup angin Danau Michigan. Kertas itu yang dulu menjadi jawaban Sarah akan candunya. Disitu tertera sebuah nama yang sekarang tak asing bagi Pamela. Sebuah Dzat yang dirindui dan menjadi candunya. Di situ tertulis : ALLAH dan satu ayat surat Ali-Imron.



Semilir angin Michigan lalu bertiup menerbangkan kertas itu semakin jauh.***(YASS)

close
Banner iklan disini