Adab – Adab Berhari Raya


Islamedia - Berhari raya bagi seorang muslim bukan sekedar berbahagia dan bersenang-senang. Tetapi, justru momen untuk semakin menguatkan hubungan dengan Allah Ta’ala, namun sayangnya hal ini sudah banyak dilupakan banyak umat Islam. Mereka lebih fokus pada simbolitas semata, seperti berbaju baru, makan-makan, dan  menghabiskan uang.

Oleh karenanya, ada baiknya kita mengetahui adab-adab apa saja yang mesti kita lakukan ketika berhari raya, yang dengannya berhari raya menjadi bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala.
1.        Dianjurkan Mandi Sebelum Berangkat Shalat

Mandi pada hari ‘Id adalah sunah, bukan wajib, dan ini telah menjadi ijma’ para ulama.

Berkata Imam Ibnu Rajab  Rahimahullah:

والغسل للعيد غير واجب . وقد حكى ابن عبد البر الإجماع عليهِ ، ولأصحابنا وجه ضعيف بوجوبه . وروى الزهري ، عن ابن المسيب ، قال : الاغتسال للفطر والأضحى قبل أن يخرج إلى الصلاة حقٌ .
Mandi pada hari raya bukanlah kewajiban, Ibnu Abdil Bar telah menceritakan adanya Ijma’ atas hal itu. Sedangkan terdapat riwayat lemah bagi sahabat-sahabat kami yang menyebutkan kewajibannya. Az Zuhri meriwayatkan dari Ibnul Musayyib, katanya: “Mandi pada Idul Fitri dan Idul Adha sebelum keluar menuju shalat adalah benar adanya.” (Imam Ibnu Rajab, Fathul Bari, 6/71)
Imam Ibnul Qayyim menceritakan:
كان يغتسل للعيدين، صح الحديث فيه، وفيه حديثان ضعيفان: حديث ابن عباس، من رواية جبارة بن مُغَلِّس، وحديث الفاكِه بن سعد، من رواية يوسف بن خالد السمتي. ولكن ثبت عن ابن عمر مع شِدة اتِّباعه للسُنَّة، أنه كان يغتسل يوم العيد قبل خروجه.
Nabi mandi pada dua hari raya, telah terdapat hadits shahih tentang itu, dan ada pula dua hadits dhaif: pertama, hadits Ibnu Abbas, dari riwayat Jabarah Mughallis, dan hadits Al Fakih bin Sa’ad, dari riwayat Yusuf bin Khalid As Samtiy. Tetapi telah shahih dari Ibnu Umar –yang memiliki sikap begitu keras mengikuti sunnah- bahwa Beliau mandi pada hari  raya sebelum keluar rumah. (Zaadul Ma’ad, 1/442. Muasasah Ar Risalah)



2.       Memakai Pakaian Terbaik dan Minyak Wangi

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

أمرنا رسول الله صلى الله عليه و سلم في العيدين أن نلبس أجود ما نجد و أن نتطيب بأجود ما نجد و أن نضحي بأسمن ما نجد
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kami pada dua hari raya untuk memakai pakaian terbaik yang kami punya, dan memakai wangi-wangian yang terbaik yang  kami punya, dan berkurban dengan hewan yang paling mahal yang kami punya. (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 7560, katanya: “Kalau bukan karena kemajhulan Ishaq bin Barzakh, akan hukumi ini sebagai hadits shahih.” Hal serupa juga dikatakan Imam Adz Dzahabi. Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 2756, dari Al Hasan bin Ali. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 3715. Ath Thahawi dalam Musykilul Aatsar No. 4730)[1]
Tetapi, telah shahih dari para sahabat bahwa mereka memakai pakaian terbaik ketika hari raya.
عن نافع أن بن عمر : كان يلبس في العيدين أحسن ثيابه
Dari Naafi’, bahwasanya Ibnu Umar memakai baju yang terbaik pada dua hari raya. (Al Baihaqi, Syu’abul Iman No. 5938)
Dalam riwayat yang lebih panjang disebutkan:
وَعَن مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ قَالَ : قُلْتُ لِنَافِعٍ : كَيْفَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا - يَصْنَعُ يَوْمَ الْعِيدِ ؟ قَالَ : كَانَ يَشْهَدُ صَلاَةَ الْفَجْرِ مَعَ الإِمَامِ , ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى بَيْتِهِ فَيَغْتَسِلُ غُسْلَهُ مِنَ الْجَنَابَةِ ، وَيَلْبَسُ أَحْسَنَ ثِيَابِهِ ، وَيَتَطَيَّبُ بِأَحْسَنِ مَا عِنْدَهُ ، ثُمَّ يَخْرُجُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى فَيَجْلِسَ فِيهِ حَتَّى يَجِيءَ الإِمَامُ ، فَإِذَا جَاءَ الإِمَامُ صَلَّى مَعَهُ ، ثُمَّ يَرْجِعُ فَيَدْخُلُ مَسْجِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَيُصَلِّي فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ يَأْتِي بَيْتَهُ
Dari Muhammad bin Ishaq: Aku berkata kepada Naafi’: “Apa yang diperbuat Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma ketika hari raya?” Beliau menjawab: “Beliau shalat subuh berjamaah bersama imam,  lalu dia pulang untuk mandi sebagaimana mandi janabah, lalu dia berpakaian yang terbaik, dan memakai wangi-wangian yang terbaik yang dia miliki, lalu dia keluar menuju lapangan tempat shalat lalu duduk sampai datangnya imam, lalu ketika imam datang dia shalat bersamanya, setelah itu dia menuju masjid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan shalat dua rakaat, lalu pulang ke rumahnya. (Imam Al Bushiri, Ittihaf Al Khairah, No. 1587)
Imam Al Bushiri mengatakan tentang hadits ini:
رواه الحارث بن أبي أسامة ورجاله ثقات ، والبيهقي مختصرًا  
Diriwayatkan Al Harits bin Abu Usamah, dan para perawinya adalah terpercaya, dan diriwayatkan oleh Al Baihaqi secara ringkas. (Ibid)
Syaikh Abdurrahman Al Mubarkafuri mengatakan: “Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dan Al Baihaqi dan isnadnya shahih.” (At Tuhfah Al  Ahwadzi, 3/59)
Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan:
وكان يلبَس للخروج إليهما أجملَ ثيابه، فكان له حُلَّة يلبَسُها للعيدين والجمعة، ومرة كان يَلبَس بُردَين أخضرين، ومرة برداً أحمر
Ketika keluar pada dua hari raya, Rasulullah memakai pakaiannya yang terbaik, Beliau memiliki sepasang pakaian yang khusus digunakannya ketika hari raya dan hari Jumat, sekali-kali Beliau memakai yang hijau, sekali pernah yang merah. (Zaadul Ma’ad, 1/440)[2]
3.       Makan dulu sebelum shalat Idul Fitri, sebaliknya tidak makan dulu sebelum shalat Idul Adha

Untuk hari Idul Fitri disunahkan makan kurma berjumlah ganjil, sebelum berangkat shalat Id. Hal ini didasarkan pada riwayat berikut:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ
وَقَالَ مُرَجَّأُ بْنُ رَجَاءٍ حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي أَنَسٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا

“Pada saat Idul Fitri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah berangkat untuk shalat sebelum makan beberapa kurma.” Murajja bin Raja berkata, berkata kepadaku ‘Ubaidullah, katanya: berkata kepadaku Anas, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Beliau memakannya berjumlah ganjil.” (HR. Bukhari No. 953)
Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah, mengutip dari Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah:
لا نعلم في استحباب تعجيل الاكل يوم الفطر اختلافا
Kami tidak ketahui adanya perselisihan pendapat tentang sunahnya  mendahulukan makan pada hari Idul Fitri. (Fiqhus Sunnah, 1/317)
Ada pun untuk Idul Adha, disunahkan tidak makan dan minum dahulu, kecuali setelah shalat Id.
Dari Buraidah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ وَلَا يَطْعَمُ يَوْمَ الْأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ
Janganlah keluar pada hari Idul Fitri sampai dia makan dulu, dan janganlah makan ketika hari Idul Adha sampai dia shalat dulu. (HR. At Tirmidzi No. 542, Ibnu Majah No. 1756, Ibnu Hibban No. 2812, Ahmad No. 22984)
Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Hasan.” (Ta’liq Musnad Ahmad No. 22984), Syaikh Al Albani menshahihkannya. (Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 1756, Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 542)
Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Dishahihkan oleh Ibnu Hibban.” (Bulughul Maram, Hal. 176. Mawqi’ Misykah)
Imam At Tirmidzi berkata:
وَقَدْ اسْتَحَبَّ قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنْ لَا يَخْرُجَ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ شَيْئًا وَيُسْتَحَبُّ لَهُ أَنْ يُفْطِرَ عَلَى تَمْرٍ وَلَا يَطْعَمَ يَوْمَ الْأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ

Segolongan ulama menyunahkan agar jangan keluar dulu pada hari Idul Fitri sampai makan sesuatu, dan disunahkan baginya untuk makan kurma, dan jangan dia makan dulu pada hari Idul Adha sampai dia pulang. (Sunan At Tirmidzi No. 542)
  1. Pergi menuju lapangan untuk shalat Id
Shalat hari raya di lapangan adalah sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena Beliau tidak pernah shalat Id, kecuali di lapangan (mushalla). Namun, jika ada halangan seperti hujan, lapangan yang berlumpur atau becek, tidak mengapa dilakukan di dalam masjid. Dikecualikan bagi penduduk Mekkah, shalat Id di Masjidil Haram adalah lebih utama.
                Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:
صلاة العيد يجوز أن تؤدى في المسجد، ولكن أداءها في المصلى خارج البلد أفضل  ما لم يكن هناك عذر كمطر ونحوه لان رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يصلي العيدين في المصلى  ولم يصل العيد بمسجده إلا مرة لعذر المطر.

                Shalat Id boleh dilakukan di dalam masjid, tetapi melakukannya di mushalla (lapangan) yang berada di luar adalah lebih utama, hal ini selama tidak ada ‘udzur seperti hujan dan semisalnya, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat dua hari raya di lapangan, tidak pernah Beliau shalat di masjidnya kecuali sekali karena adanya hujan. (Fiqhus Sunnah, 1/318)
                Maksud dari “mushalla” adalah:
موضع بباب المدينة الشرقي
                Lapangan di pintu Madinah sebelah timur. (Ibid, cat kaki. No. 2)
Imam An Nawawi menjelaskan:
أما الاحكام فقال اصحابنا تجوز صلاة العيد في الصحراء وتجوز في المسجد فان كان بمكة فالمسجد الحرام أفضل بلا خلاف
                Ada pun masalah hukum-hukumnya, sahabat-sahabat kami (Syafi’iyah) mengatakan bolehnya shalat  ‘Id di lapangan dan bolehnya di masjid.  Jika di Mekkah, maka Masjidil Haram adalah lebih utama, tanpa diperdebatkan lagi. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 5/5)
                Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
أَنَّهُ أَصَابَهُمْ مَطَرٌ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَصَلَّى بِهِمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْعِيدِ فِي الْمَسْجِدِ

                Bahwasanya mereka ditimpa hujan pada hari raya, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat Id bersama mereka di masjid. (HR. Abu Daud No. 1160, Ibnu Majah No. 1313, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1094, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 6051, juga As Sunan Ash Shughra No. 732)[3]
                Adapun kalangan Syafi’iyah, lebih mengutamakan di masjid jika masjid itu mampu menampung semua jamaah satu daerah, jika tidak, maka di lapangan lebih baik.
                Imam Abu Ishaq Asy Syirazi Rahimahullah menuliskan:
وإن كان المسجد واسعا فالمسجد أفضل من المصلى لان الأئمة لم يزالوا يصلون صلاة العيد بمكة في المسجد ولان المسجد أشرف وأنظف قال الشافعي رحمه الله فإن كان المسجد واسعا فصلى في الصحراء فلا بأس وإن كان ضيقا فصلى فيه ولم يخرج إلى المصلى كرهت لانه إذا ترك المسجد وصلى في الصحراء لم يكن عليهم ضرر وإذا ترك الصحراء وصلى في المسجد الضيق تأذوا بالزحام وربما فات بعضهم الصلاة فكره
                Jika masjid itu luas, maka shalat di dalamnya lebih utama dibanding di lapangan. Karena para imam senantiasa melakukan shalatnya di Mekkah di dalam masjid, juga karena masjid itu  lebih mulia dan lebih bersih. Imam Asy Syafi’i berkata: “Jika masjid itu luas maka shalat di lapangan tidak apa-apa, jika masjidnya sempit maka shalatlah di lapangan.  Jika ada yang tidak keluar menuju lapangan maka itu dibenci (makruh), karena jika mereka meninggalkan  masjid dan shalat di lapangan, tidak akan terjadi dharar (kerusakan). Jika mereka meninggalkan lapangan, dan shalat di masjid yang sempit, maka hal itu akan mengganggu mereka dengan berdesak-desakan, bisa jadi di antara mereka ada yang luput shalatnya, dan hal itu menjadi makruh. (Al Muhadzdzab, 1/118)
                Dalam Syarah terhadap kitab Al Muhazdzab-nya Imam Abu Ishaq,   Imam An Nawawi memberikan rincian sebagai berikut:
-          Shalat Id di Masjidil Aqsha, menurut Al Bandaniji dan Ash Shaidalani, lebih utama dibanding di lapangan. Jumhur tidak ada yang menolaknya, namun yang benar adalah bahwa mereka menyamakan secara mutlak bahwa Al Aqsha sama dengan masjid  lainnya.
-          Jika di negeri selain itu, maka jika mereka memiliki halangan untuk keluar ke lapangan, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa mereka diperintahkan shalat Id di masjid.  Udzur tersebut seperti hujan, dingin, rasa takut, dan semisalnya.
-          Jika tidak ada udzur, dan masjidnya sempit, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa di lapangan lebih afdhal.
-          Jika masjid luas, tapi tidak ada udzur, maka ada dua pendapat:
Pertama, yang shahih adalah yang tertera dalam Al Umm, dan merupakan pendapat Al Mushannif (maksudnya Imam Abu Ishaq Asy Syirazi), mayoritas ulama Iraq, Al Baghawi, dan selain mereka, bahwa shalat di masjid lebih afdhal.
Kedua, yang shahih menurut komunitas ulama khurasan bahwa shalat di lapangan lebih afdhal, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu melakukannya di lapangan.
Golongan yang pertama memberikan jawaban, bahwa dahulu shalat di lapangan lantaran masjid  berukuran  sempit sedangkan manusia yang keluar sangat banyak, maka yang lebih benar adalah di masjid. Demikian uraian Imam An Nawawi. (Lihat semua dalam Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 5/5)
                Jadi, jika dilihat perbedaan ini, nampak bahwa  yang terpenting adalah tertampungnya jamaah shalat Id dalam tempat shalat. Itulah esensinya, kalangan Syafi’iyah bukan menolak shalat Id di lapangan sebagaimana penjelasan tokoh-tokoh mereka,  sebagaimana memang itu yang dicontohkan nabi, tetapi mereka melihat pada maksudnya, yaitu karena manusia begitu banyak sedangkan kapasitas masjid tidak cukup. Nah, untuk zaman ini rasio umat Islam dan jumlah masjidnya tidak seimbang,  umumnya memang masjid tidak mampu menampung membludaknya jamaah –dan ini yang biasa terjadi- maka, saat itu di lapangan lebih afdhal.
                Wallahu A’lam 
  1. Dianjurkan kaum wanita dan anak-anak keluar ke lapangan
Mereka dianjurkan untuk keluar karena memang ini adalah hari raya yang mesti disambut dengan suka cita oleh siapa saja.
Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:
يشرع خروج الصبيان والنساء في العيدين للمصلى من غير فرق بين البكر والثيب والشابة والعجوز والحائض
Dianjurkan keluarnya anak-anak dan kaum wanita pada dua hari raya menuju lapangan, tanpa ada perbedaan, baik itu gadis, dewasa, pemudi, tua renta, dan juga wanita haid. (Fiqhus Sunnah, 1/318)
Ummu ‘Athiyah Radhiallahu ‘Anha berkata:
أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

                Kami diperintahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengeluarkan anak-anak gadis, wanita haid, wanita yang dipingit, pada hari Idul Fitri dan idul Adha. Ada pun wanita haid, mereka terpisah dari tempat shalat. Agar mereka bisa menghadiri kebaikan dan doa kaum muslimin. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, salah seorang kami tidak memiliki jilbab.” Beliau menjawab: “Hendaknya saudarinya memakaikan jilbabnya untuknya.” (HR. Bukhari No. 324, dan Muslim No. 890, dan ini lafaznya Imam Muslim)
                Hikmahnya adalah –selain agar mereka bisa mendapatkan kebaikan dan doa kaum muslimin- juga sebagai momen bagi kaum wanita dan anak-anak untuk mendapatkan pelajaran dan nasihat agama. Hal ini ditegaskan dalam riwayat Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, ketika dahulu masih kecil, katanya:
خَرَجْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ فِطْرٍ أَوْ أَضْحَى فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ ثُمَّ أَتَى النِّسَاءَ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ
                Saya keluar bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hari Idul Fitri atau Idul Adha, Beliau shalat, kemudian berkhutbah, lalu mendatangi kaum wanita dan memberikan nasihat kepada mereka, memberikan peringatakan dan memerintahkan mereka untuk bersedekah. (HR. Bukhari No. 975)
                Namun, hendaknya keluarnya kaum wanita tetap menjaga akhlak dan adab berpakaian yang dibenarkan syariat, tidak berpakaian dan berhias seperti orang kafir, tidak menampakkan lekuk tubuh, menutup aurat secara sempurna, tidak mencolok, dan menjauhi wangi-wangian.
  1. Shalat Hari Raya              
Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al Kautsar: 2)
 Shalat Idul Adha (juga Idhul Fitri) adalah sunah muakadah. Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:
شرعت صلاة العيدين في السنة الاولى من الهجرة، وهي سنة مؤكدة واظب النبي صلى الله عليه وسلم عليها وأمر الرجال والنساء أن يخرجوا لها.
Disyariatkannya shalat ‘Idain (dua hari raya) pada tahun pertama dari hijrah, dia adalah sunah muakadah yang selalu dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau memerintahkan kaum laki-laki dan wanita untuk keluar meramaikannya. (Fiqhus Sunnah, 1/317)
Ada pun kalangan Hanafiyah berpendapat wajib, tetapi wajib dalam pengertian madzhab Hanafi adalah kedudukan di antara sunah dan fardhu.
Disebutkan dalam Al Mausu’ah:
صَلاَةُ الْعِيدَيْنِ وَاجِبَةٌ عَلَى الْقَوْل الصَّحِيحِ الْمُفْتَى بِهِ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ - وَالْمُرَادُ مِنَ الْوَاجِبِ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ : أَنَّهُ مَنْزِلَةٌ بَيْنَ الْفَرْضِ وَالسُّنَّةِ - وَدَلِيل ذَلِكَ : مُوَاظَبَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا مِنْ دُونِ تَرْكِهَا وَلَوْ مَرَّةً
Shalat ‘Idain adalah wajib menurut pendapat yang shahih yang difatwakan oleh kalangan Hanafiyah –maksud wajib menurut madzhab Hanafi adalah kedudukan yang setara antara fardhu dan sunah. Dalilnya adalah begitu bersemangatnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukannya, Beliau tidak pernah meninggalkannya sekali pun. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/240)
Sedangkan Syafi’iyah dan Malikiyah menyatakan sebagai sunah muakadah, dalilnya adalah karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah ditanya oleh orang Arab Badui tentang shalat fardhu, Nabi menyebutkan shalat yang lima. Lalu Arab Badui itu bertanya:
 هَل عَلَيَّ غَيْرُهُنَّ ؟ قَال لاَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ
 Apakah ada yang selain itu? Nabi menjawab: “Tidak ada, kecuali yang sunah.” (HR. Bukhari No. 46)
Bukti lain bahwa shalat ‘Idain itu sunah adalah shalat tersebut tidak menggunakan adzan dan iqamah sebagaimana shalat wajib lainnya. Shalat tersebut sama halnya dengan shalat sunah lainnya tanpa adzan dan iqamah, seperti dhuha, tahajud, dan lainnya. Ini menunjukkan bahwa shalat ‘Idain adalah sunah.
Sedangkan Hanabilah mengatakan fardhu kifayah, alasannya adalah karena firman Allah Ta’ala menyebutkan shalat tersebut dengan kalimat perintah:  “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al Kautsar: 2). Juga karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu merutinkannya. (Ibid, 27/240)
  1. Mendengarkan Khutbah Hari Raya
Berkhutbah hari raya adalah sunah menurut jumhur ulama, mendengarkannya juga sunah.
Syaikh Sayyid Sabiq menerangkan:
الخطبة بعد صلاة العيد سنة والاستماع إليها كذلك
Khutbah setelah shalat Id adalah sunah, mendengarkannya juga begitu. (Fiqhus Sunnah, 1/321)
Syaikh Wahbah Az Zuhaili Rahimahullah menjelaskan:
تسن عند الجمهور وتندب عند المالكية خطبتان للعيد كخطبتي الجمعة في الأركان والشروط والسنن والمكروهات، بعد صلاة العيد خلافاً للجمعة، بلا خلاف بين المسلمين
Disunahkan menurut mayoritas ulama, dan dianjurkan menurut Malikiyah dua khutbah pada saat hari raya, sebagaimana khutbah Jumat dalam hal rukun, syarat, sunah, dan makruhnya, dilakukan setelah shalat Id, berbeda dengan shalat Jumat, tidak ada perselihan pendapat di antara kaum muslimin dalam hal ini. (Al Fiqhu Al Islami wa Adillatuhu, 2/528)
Maka, di sisi khatib,  sangat dianjurkan agar khatib memberikan khutbah semenarik mungkin agar jamaah tidak pulang. Sebab, di sisi lain mereka berhak untuk itu, karena memang itu sunah, dan mereka pun sudah shalat Id. Berbeda dengan shalat Jumat, mereka tidak mungkin pulang ketkka mendengarkan khutbah, karena shalatnya belum mulai.

  1. Berangkat dan Pulang melewati jalan yang berbeda
Sunah ini diterangkan dalam berbagai riwayat. Di antaranya:
Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ
            Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika keluar pada hari Id akan menempuh jalan yang berbeda. (HR. Bukhari No. 986)
                Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
كان النبي صلى الله عليه و سلم كان إذا خرج إلى العيدين رجع في غير الطريق الذي خرج فيه
                Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika keluar menuju shalat dua hari raya, pulangnya menempuh jalan yang berbeda dengan keluarnya. (HR. Ahmad No. 8454, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1099, Al Baihaqi dalam As Sunan Ash Shughra No. 727,  Ibnu Khuzaimah No. 1468)[4]
                Imam At Tirmidzi juga meriwayatkan dengan lafaz:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ يَوْمَ الْعِيدِ فِي طَرِيقٍ رَجَعَ فِي غَيْرِهِ
                Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika keluar pada hari raya menempuh sebuah jalan, pulangnya dia melewati jalan yang lain. (HR. At Tirmidzi No. 541, katanya: hasan gharib. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam  Shahihul Jami’ No. 4710)
                Imam At Tirmidzi mengomentari hadits ini:
وَقَدْ اسْتَحَبَّ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ لِلْإِمَامِ إِذَا خَرَجَ فِي طَرِيقٍ أَنْ يَرْجِعَ فِي غَيْرِهِ اتِّبَاعًا لِهَذَا الْحَدِيثِ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ
                Sebagian ulama menyunahkan bagi imam jika keluar melewati sebuah jalan, hendaknya pulang melalui jalan lain, untuk mengikuti hadits ini. Ini adalah pendapat Asy Syafi’i. (Sunan At Tirmidzi No. 541)
                Namun, secara zahir hadits ini tidak menunjukkan kekhususan untuk imam. Oleh karenanya, mesti dipahami bahwa kesunahan ini berlaku secara umum, bagi imam, juga selain imam.
                Syaikh Abdurrahman Al Mubarkafuri menjelaskan:
قال أبو الطيب السندي الظاهر أنه تشريع عام فيكون مستحبا لكل أحد ولا تخصيص بالإمام إلا إذا ظهر أنه لمصلحة مخصوصة بالأئمة فقط
                Berkata Abu Thayyib As Sindi: yang benar adalah bahwa pensyariatannya adalah umum, maka hal ini menjadi sunah bagi setiap orang tidak dikhususkan bagi imam saja, kecuali jika ada  kejelasan adanya maslahat khusus terkait dengan para imam saja. (Tuhfah Al Ahwadzi, 3/78)
                Al Hafizh Ibnu Hajar mengoreksi informasi apa yang ditulis Imam At Tirmidzi tentang pendapat Imam Asy Syafi’i yang katanya sunah bagi imam saja, kata Al Hafizh:
والذي في الأم أنه يستحب للإمام والمأموم وبه قال أكثر الشافعية
                Dan, yang ada di dalam Al Umm, bahwa Beliau (Asy Syafi’i) menyunahkan bagi imam dan ma’mum sekaligus, dan ini merupakan pendapat mayoritas Syafi’iyah. (Fathul Bari, 2/472)
                Syaikh Al Mubarkafuri menambahkan:
وبالتعميم قال أكثر أهل العلم انتهى قلت وبالتعميم قال الحنفية أيضا
                Dan, mayoritas ulama berpendapat bahwa hal ini berlaku umum. Aku berkata: “untuk umum” juga pendapat Hanafiyah. (Tuhfah Al Ahwadzi, 3/79)
Apa hikmahnya disunahkan menempuh jalan berbeda?
                Tidak ada keterangan dalam As Sunah tentang alasan kenapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan hal ini. Oleh karenanya, terjadi beragam tafsir dari para ulama tentang maksudnya, sampai lebih dari 20 pendapat.
                Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan:
وقد اختلف في معنى ذلك على أقوال كثيرة اجتمع لي منها أكثر من عشرين
                Telah terjadi perselisihan tentang makna hal ini dengan perselisihan yang banyak, saya telah mengumpulkan pendapat-pendapat itu,  di antaranya lebih dari 20 pendapat. (Fathul Bari, 2/473)
                Di antara mereka ada yang mengatakan; untuk saling mengunjungi satu sama lain, untuk berbagi keberkahan di antara mereka, agar mereka menyebarkan   wangi-wangian yang memang disunahkan untuk memakainya saat itu dan bisa dicium oleh orang lain,  untuk membuat jengkel Yahudi dan kaum munafik, menunjukkan syiar, untuk mesyiarkan dzikrullah, dan sebagainya.
Boleh menempuh jalan yang sama
                Tidak terlarang jika pada akhirnya ketika pulang dari shalat Id memilih jalan yang sama dengan berangkatnya.  Hal ini berdasarkan riwayat berikut:
                Dari Bakr bin Mubasysyir Al Anshari, katanya:
كُنْتُ أَغْدُو مَعَ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُصَلَّى يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى فَنَسْلُكُ بَطْنَ بَطْحَانَ حَتَّى نَأْتِيَ الْمُصَلَّى فَنُصَلِّيَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ نَرْجِعَ مِنْ بَطْنِ بَطْحَانَ إِلَى بُيُوتِنَا

                Saya berangkat pagi-pagi bersama para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menuju lapangan pada hari Idul Fitri dan Idul Adha, kami menempuh lembah Bath-han sampai kami datang ke lapangan lalu kami shalat bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kemudian kami pulang melewati lembah Bath-han ke rumah-rumah kami. (HR. Abu Daud No. 1158, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1100, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 6048, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi, Kanzul ‘Ummal No. 24520, katanya: Ibnu Sikkin berkata isnadnya shaalih (baik). Abu Nu’aim dalam Ma’rifatush Shahabah No. 1156)
                Sebagian ulama mendhaifkan hadits, namun demikian hal ini tidak mengubah hakikat masalah ini, yakni menempuh jalan berbeda antara pergi dan pulang adalah sunah, bukan wajib.
                Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah menjelaskan:
ولكن يدل على أن الإنسان له أن يذهب من طريق ويرجع من نفس طريقه دون أن يخالف الطريق، لكن الحديث غير ثابت؛ لأن فيه من هو ضعيف ومن هو مجهول، والثابت هو ما تقدم من أنه يخالف الطريق، وأنه يذهب من طريق ويرجع من طريق، وهذا سنة، ولو أن الإنسان ذهب من طريقه ورجع من طريقه فلا بأس بذلك، فالذهاب من طريق والرجوع من طريق أخرى ليس بواجب وإنما هو مستحب، إن فعله الإنسان أثيب وإن لم يفعله فلا شيء عليه
                Tetapi hadits ini menunjukkan bahwa manusia dapat pergi dan pulang melalui jalan yang sama tanpa menempuh jalan yang berbeda, tetapi hadits ini tidak tsaabit (kuat), karena di dalamnya terdapat perawi yang lemah dan majhuul, yang shahih adalah hadits yang telah lalu bahwa nabi menempuh jalan yang berbeda, Beliau pergi melalui sebuah jalan dan kembali melalui jalan yang lain, dan ini adalah sunah. Seandainya manusia pergi melalui sebuah jalan lalu pulang lewat jalan itu lagi, hal itu tidak apa-apa. Jadi, pergi menempuh suatu jalan dan pulangnya menempuh jalan lain adalah bukan hal yang wajib, itu hanya mustahab (disukai), jika manusia melakukannya maka dia mendapatkan pahala, jika tidak, maka tidak apa-apa. (Syarh Sunan Abi Daud,  6/470)

  1. Mengucapkan selamat hari raya: “taqabbalallahu minna wa minka
Telah diriwayatkan dari Al Watsilah, bahwa beliau berjumpa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengucakan:  Taqabballahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amal kami dan Anda). Namun sanad riwayat ini dhaif (lemah/tidak valid), sebagaimana yang dikatakan Al Imam Al Hazifh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani dalam Fathul BariNamun, Imam Ibnu Hajar berkata:
وَرَوَيْنَا فِي " الْمَحامِلِيَّاتِ " بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ " كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك "
“Kami meriwayatkan dalam kitab Al Mahalliyat, dengan sanad yang hasan (bagus), dari Jubeir bin Nufair, katanya: dahulu para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika mereka berjumpa pada hari raya, satu sama lain berkata: “taqabbalallahu minna wa minka.” (Fathul Bari, 2/446. Darul Fikr)
Hal ini juga diriwayatkan oleh Muhammad bin Ziyad, bahwa beliau bersama Abu Umamah Al Bahili dan para sahabat nabi lainnya, bahwa mereka jika satu sama lain berjumpa sepulang shalat Id, mengucapkan: taqabballahu minna wa minka. Menurut Imam Ahmad bin Hambal sanadnya jayyid (bagus/baik). (Syaikh Al Albani, Tamamul Minnah, hal. 355-356)

  1. Bersenang-senang dan bergembira dengan mengadakan pesta dan permainan yang halal
Bersenang dan bergembira ketika hari raya adalah bagian dari ketentuan syariat, selama semua dilakukan sesuai syariat pula, tidak berlebihan, dan tidak membuat lupa dengan kewajiban.
Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:
اللعب المباح، واللهو البرئ، والغناء الحسن، ذلك من شعائر الدين التي شرعها الله في يوم العيد، رياضة للبدن وترويحا عن النفس
Melakukan permainan yang dibolehkan, gurauan yang baik, nyanyian yang baik, semua itu termasuk di antara syiar-syiar agama yang Allah tetapkan pada hari raya  , untuk menyehatkan   badan dan mengistirahatkan jiwa. (Fiqhus Sunnah, 1/323)
Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang ke Madinah, saat itu mereka memiliki dua hari untuk bermain-main. Lalu Beliau bersabda: “Dua hari apa ini?” Mereka menjawab: “Dahulu, ketika kami masih jahiliyah kami bermain-main pada dua hari ini.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan buat kalian dua hari itu dengan yang lebih baik darinya, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri.” (HR. Abu Daud No. 1134, Ahmad No. 12006, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 5918, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1091, Abu Ya’la No. 3820)[5]
‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bercerita:
أَنَّ الْحَبَشَةَ كَانُوا يَلْعَبُونَ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي يَوْمِ عِيدٍ، قَالَتْ: فَاطَّلَعْتُ مِنْ فَوْقِ عَاتِقِهِ ، فَطَأْطَأَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْكِبَيْهِ، فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ إِلَيْهِمْ مِنْ فَوْقِ عَاتِقِهِ حَتَّى شَبِعْتُ، ثُمَّ انْصَرَفْتُ
Orang-orang Habasyah (Etiopia) mengadakan permainan di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hari raya. Dia (‘Aisyah) berkata: “Aku pun menonton di atas bahunya, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merendahkan bahunya untukku, sehingga aku bisa melihat mereka di atas bahunya sampai aku puas, kemudian aku berpaling.” (HR. Ahmad No. 24296, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 1798, dan Sunan An Nasa’i No. 1594. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i No. 1594, juga Syaikh Syu’aib Al Arnauth. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 24296)
‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha juga cerita:
دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ مِنْ جَوَارِي الْأَنْصَارِ تُغَنِّيَانِ بِمَا تَقَاوَلَتْ الْأَنْصَارُ يَوْمَ بُعَاثَ قَالَتْ وَلَيْسَتَا بِمُغَنِّيَتَيْنِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ أَمَزَامِيرُ الشَّيْطَانِ فِي بَيْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَلِكَ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا
“Abu Bakar masuk ke rumah dan di hadapanku ada dua orang  jariyah (budak remaja wanita) dari Anshar, mereka berdua sedang bernyanyi dengan syair yang mengingatkan kaum Anshar terhadap hari perang Bu’ats.”  Dia (‘Aisyah) berkata: “Mereka berdua bukanlah penyanyi.” Lalu Abu Bakar berkata: “Apakah seruling-seruling syetan ada di rumah Rasulullah?” Saat itu sedang hari raya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai Abu Bakar, Setiap kaum ada hari rayanya, dan hari ini adalah hari raya kita.” (HR. Bukhari No. 952, Muslim No. 892, Imam Muslim menambahkan bahwa dua jariyah ini memainkan duff /rebana)[6]
Dalam riwayat lain ada tambahan:
دعهن يا أبا بكر فإنها أيام عيد فتعلم يهود أن فى ديننا فسحة إنى أرسلت بحنيفية سمحة
Biarkan mereka wahai Abu Bakar, sesungguhnya ini adalah hari raya, agar orang Yahudi tahu bahwa pada agama kita ada kelapangan, dan aku diutus dengan membawa agama yang hanif lagi lapang. (HR. Ahmad No. 24855, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi, Kanzul ‘Ummal No. 40628. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: hadits ini kuat, dan sanadnya hasan. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 24855)
  1. Bertakbir Pada Hari Raya
Kita dianjurkan untuk bertakbir pada hari raya, selain ini menjadi syiar Islam yang  begitu kuat, ini juga diperintahkan dalam Al Quran dan dicontohkan dalam As Sunnah.
-          Untuk bertakbir pada Idul Fitri
 Allah Ta’ala berfirman:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
                                                                                                                                                                                                   Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al Baqarah (2): 185)
Waktunya
Ayat  di atas dijadikan dalil oleh Imam Asy Syafi’i dan yang menyepakatinya, bahwa bertakbir pada hari Idul Fitri adalah dimulai ketika berakhirnya Ramadhan pada saat tenggelamnya matahari. Istilah di negeri kita adalah malam takbiran. Pada ayat ini, diperintahkan untuk  mulai bertakbir ketika sudah sempurna bilangan puasanya, dan bilangan puasa telah cukup sempurna setelah mereka berbuka pada puasa terakhir Ramadhan di malam harinya.
Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:
وقال قوم التكبير من ليلة الفطر إذا رأوا الهلال حتى يغدوا إلى المصلى وحتى يخرج الامام
Segolongan ulama mengatakan bahwa bertakbir dilakukan sejak malam hari raya Idul Fitri jika telah terlihat hilal, sampai pagi hari hari menuju lapangan dan sampai keluarnya imam ke tempat shalat. (Fiqhus Sunnah, 1/325)
Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu berkata dalam Al Umm ketika mengomentari ayat di atas:
فَسَمِعْت من أَرْضَى من أَهْلِ الْعِلْمِ بِالْقُرْآنِ أَنْ يَقُولَ لِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ عِدَّةَ صَوْمِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَتُكَبِّرُوا اللَّهُ عِنْدَ إكْمَالِهِ على ما هَدَاكُمْ وَإِكْمَالُهُ مَغِيبُ الشَّمْسِ من آخِرِ يَوْمٍ من أَيَّامِ شَهْرِ رَمَضَانَ
Aku mendengar dari orang-orang yang aku ridhai dari kalangan ulama yang mengerti Al Quran, yang mengatakan “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya” yaitu bilangan puasa di bulan Ramadhan, dan bertakbir ketika sempurna bilangannya “atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu” sempurnanya itu adalah ketika tenggelamnya matahari pada akhir hari di hari-hari bulan Ramadhan.
Lalu, Imam Asy Syafi’i melanjutkan:
فإذا رَأَوْا هِلَالَ شَوَّالٍ أَحْبَبْتُ أَنْ يُكَبِّرَ الناس جَمَاعَةً وَفُرَادَى في الْمَسْجِدِ وَالْأَسْوَاقِ وَالطُّرُقِ وَالْمَنَازِلِ وَمُسَافِرِينَ وَمُقِيمِينَ في كل حَالٍ وَأَيْنَ كَانُوا وَأَنْ يُظْهِرُوا التَّكْبِيرَ وَلَا يَزَالُونَ يُكَبِّرُونَ حتى يَغْدُوَا إلَى الْمُصَلَّى وَبَعْدَ الْغُدُوِّ حتى يَخْرُجَ الْإِمَامُ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ يَدَعُوا التَّكْبِيرَ
                                                                                                                                                                                                                Maka, jika sudah terlihat hilal bulan Syawal aku suka bila manusia bertakbir baik secara berjamaah atau sendiri di masjid, pasar, jalan-jalan, rumah-rumah, para musafir, dan para mukimin pada setiap keadaan, di mana saja mereka berada hendaknya menampakkan takbirnya, dan terus menerus takbir sampai datangnya pagi hingga menunju lapangan dan setelah itu sampai imam keluar untuk shalat, kemudian mereka sudahi takbir itu. (Al Umm, 1/231. Darul Ma’rifah)
Tetapi jumhur ulama mengatakan, bahwa mulainya adalah sejak pagi hari menuju lapangan hingga khutbah Id.


Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                وجمهور العلماء على أن التكبير في عيد الفطر من وقت الخروج إلى الصلاة إلى ابتداء الخطبة.وقد روي في ذلك أحاديث ضعيفة وإن كانت الرواية صحت بذلك عن ابن عمر وغيره من الصحابة. قال الحاكم: هذه سنة تداولها أهل الحديث.وبه قال مالك وأحمد وإسحق وأبو ثور.
                                                                                                                                   Mayoritas ulama berpendapat bahwa bertakbir pada Idul Fitri dimulai sejak keluar menuju shalat Id, sampai mulainya khutbah. Hal itu telah diriwayatkan dalam hadits-hadits dhaif, walau ada yang shahih hal itu dari Ibnu Umar dan selainnya dari kalangan sahabat nabi. Berkata Al Hakim: ini adalah sunah yang tersebar dikalangan ahli hadits. Dan inilah pendapat Malik, Ahmad, ishaq, dan Abu Tsaur.  (Fiqhus Sunnah, 1/325) 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   Shighat (Bentuk Kalimat) Takbir 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   Syaikh Wahbah Az Zuhaili Hafizhahullah merinci sebagai berikut:
-         Bacaan takbir menurut kalangan Hanafiyah dan Hanabilah

Allahu Akbar Allahu Akbar Laa ilaha Illallah wallahu Akbar Allahu Akbar (dibaca 2 kali), lalu walillahil hamd.

Bacaan ini berdasarkan riwayat dari Jabir, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan juga yang dibaca dua khalifah, dan juga Ibnu Mas’ud.

-          Menurut Malikiyah dan Syafi’iyah dalam pendapat barunya (Qaul Jadid)

(Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar) dan ini adalah yang terbaik menurut Malikiyah, jika mau menambahkan (Laa Ilaha Ilallah wallahu Akbar Allahu Akbar wa Lillahil Hamd), maka ini bagus, amalan ini berdasarkan riwayat dari Jabir dan Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, disunahkan menurut Syafi’iyah setelah membaca takbir yang ketiga: (Allahu Akbar Kabira wal Hamdulillah Katsira wa Subhanallahu Bukrataw wa Ashila), sebagaimana yang nabi ucapkan di bukti Shafa. Disunahkan pula setelah itu dengan menambahkan:

لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه، مخلصين له الدين ، ولو كره الكافرون، لا إله إلا الله وحده، صدق وعده، ونصر عبده، وهزم الأحزاب وحده، لا إله إلا الله والله أكبر

Tambahan ini dilakukan jika mau saja menurut Hanafiyah, lalu ditutup dengan membaca:

اللهم صلِّ على محمد وعلى آل محمد، وعلى أصحاب محمد، وعلى أزواج محمد، وسلم تسليماً كثيراً
                Demikian. (Lihat Al Fiqhu Al Islami wa Adillatuhu, 2/532)                                                                                                                           
               
Imam Ath Thabarani meriwayatkan tentang takbirnya Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu:

أنه كان يكبر صلاة الغداة من يوم عرفة ويقطع صلاة العصر من يوم النحر يكبر إذا صلى العصر قال : وكان يكبر الله أكبرالله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Bahwasanya Abdullah bin Mas’ud bertakbir pada shalat subuh pada hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah), dan memutuskannya pada shalat ‘ashar hari nahr (penyembelihan), Beliau bertakbir jika shalat ‘ashar: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, laa Ilaha Illallah wallahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd.” (Al Mu’jam Al Kabir No. 9538. Lihat juga  Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 5679, )

 Serupa dengan ini  juga dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib. (Kanzul ‘Ummal No. 12754)

 Sedangkan Ibnu Abbas bertakbir sejak shalat subuh pada hari ‘Arafah, hingga hari-hari tasyriq, tidak bertakbir pada maghribnya. Kalimat takbir Ibnu Abbas:

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Allahu Akbar Kabira (2X), Allahu Akbar wa Ajall, Allahu Akbar wa lillahil Hamd. (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 5692)

Mana saja dari kalimat ini yang kita pakai, maka semuanya adalah baik. Ini adalah masalah yang lapang dan luwes.

Dianjurkan Mengeraskan Suara

Hal ini adalah sunah menurut jumhur ulama. Dan, telah dicontohkan oleh para sahabat bahwa mereka mengeraskan suara ketika bertakbir, seperti Umar bin Khathab melakukannya di Kubah masjid di kota Mina, yang akhirnya diikuti oleh penduduk Mina sehingga kota Mina menjadi riuh oleh takbir.

Tertulis di dalam Al Mausu’ah:

  أَمَّا التَّكْبِيرُ فِي عِيدِ الْفِطْرِ فَيَرَى جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ أَنَّهُ يُكَبَّرُ فِيهِ جَهْرًا وَاحْتَجُّوا بِقَوْلِهِ تَعَالَى : { وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ }   قَال ابْنُ عَبَّاسٍ : هَذَا وَرَدَ فِي عِيدِ الْفِطْرِ بِدَلِيل عَطْفِهِ عَلَى قَوْله تَعَالَى : { وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ }  وَالْمُرَادُ بِإِكْمَال الْعِدَّةِ بِإِكْمَال صَوْمِ رَمَضَانَ  

 Ada pun pada Idul Fitri jumhur (mayoritas) fuqaha memandang bahwa bertakbir dilakukan dengan suara dikeraskan. Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala:   “hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu,” berkata Ibnu Abbas: ayat ini berbicara tentang Idul Fitri karena kaitannya dengan firmanNya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya,” maksudnya dengan menyempurnakan jumlahnya, dengan menggenapkan puasa Ramadhan.  (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 13/213)   
         
Ada pun kalangan Hanafiyah mereka menganjurkan bertakbir secara disirr-kan, pada hari raya Idul Fitri. Berikut ini keterangannya:

وَذَهَبَ أَبُو حَنِيفَةَ إِلَى عَدَمِ الْجَهْرِ بِالتَّكْبِيرِ فِي عِيدِ الْفِطْرِ لأِنَّ الأْصْل فِي الثَّنَاءِ الإْخْفَاءُ لِقَوْلِهِ تَعَالَى {وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْل }  وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُ الذِّكْرِ الْخَفِيُّ. وَلأِنَّهُ أَقْرَبُ مِنَ الأْدَبِ وَالْخُشُوعِ ، وَأَبْعَدُ مِنَ الرِّيَاءِ
Pendapat Abu Hanifah adalah takbir tidak dikeraskan saat Idul Fitri, karena pada asalnya pujian itu mesti disembunyikan, karena Allah Ta’ala berfirman:  “dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara,” dan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sebaik-baiknya dzikir adalah yang tersembunyi.” [7]  Karena hal itu lebih dekat dengan adab, khusyu’, dan lebih jauh dari riya’. (Al Mausu’ah, 13/214)

                                                                                                                                                                                                               
- Takbir Pada Idhul Adha 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              Allah Ta’ala berfirman:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ
                Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan. (QS. Al Baqarah (2): 203)                                                                                                                                        Maksud  “hari-hari yang telah ditentukan” adalah hari-hari tasyriq, sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas. (Al Baihaqi dalam Ma’rifatus Sunan wal Atsar No. 3354)

          Waktunya
               
                Bertakbir pada Idul Adha, sudah dimulai sejak pagi hari 9 Dzulhijah hingga akhir hari tasyriq (13 Dzulhijjah)  sebelum maghrib. Sebenarnya tidak ada keterangan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, oleh karena itu mereka berbeda dalam kapankah mulainya? Dan kapan berakhirnya?  Ada pun sebagian sahabat melakukannya sejak subuh hari Arafah hingga ashar 13 Dzulhijjah, itulah yang dilakukan oleh para sahabat seperti Ali dan Ibnu Mas’ud sebagaimana keterangan sebelumnya.

Al Hafizh Ibnu Hajar menceritakan:

وَلِلْعُلَمَاءِ اِخْتِلَافٌ أَيْضًا فِي اِبْتِدَائِهِ وَانْتِهَائِهِ فَقِيلَ : مِنْ صُبْحِ يَوْمِ عَرَفَةَ ، وَقِيلَ مِنْ ظُهْرِهِ ، وَقِيلَ مِنْ عَصْرِهِ ، وَقِيلَ مِنْ صُبْحِ يَوْمِ النَّحْرِ ، وَقِيلَ مِنْ ظُهْرِهِ . وَقِيلَ فِي الِانْتِهَاءِ إِلَى ظُهْرِ يَوْمِ النَّحْرِ ، وَقِيلَ إِلَى عَصْرِهِ ، وَقِيلَ إِلَى ظُهْرِ ثَانِيهِ ، وَقِيلَ إِلَى صُبْحِ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ، وَقِيلَ إِلَى ظُهْرِهِ ، وَقِيلَ إِلَى عَصْرِهِ . حَكَى هَذِهِ الْأَقْوَالَ كُلَّهَا النَّوَوِيُّ إِلَّا الثَّانِيَ مِنْ الِانْتِهَاءِ . وَقَدْ رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ عَنْ أَصْحَابِ اِبْنِ مَسْعُودٍ وَلَمْ يَثْبُتْ فِي شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيثٌ ، وَأَصَحُّ مَا وَرَدَ فِيهِ عَنْ الصَّحَابَةِ قَوْلُ عَلِيٍّ وَابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّهُ مِنْ صُبْحِ يَوْمِ عَرَفَةَ آخِرِ أَيَّامِ مِنًى أَخْرَجَهُ اِبْنُ الْمُنْذِرِ وَغَيْرُهُ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ                                  

          Para ulama berbeda pendapat juga tentang mulai dan berakhirnya. Ada yang bilang: sejak subuh hari ‘Arafah, ada pula yang bilang sejak zhuhur, ada yang sejak ashar, ada yang bilang sejak subuh hari nahr (penyembelihan – 10 Dzulhijah, pen), ada yang bilang sejak zhuhur hari nahr. Ada yang mengatakan berakhirnya sampai zhuhur hari nahr, ada yang bilang sampai ashar, ada yang bilang sampai zhuhur hari tasyriq kedua, ada yang bilang sampai subuh pada akhir hari tasyriq, ada yang bilang sampai zuhurnya, dan ada yang sampai asharnya.   Semua pendapat ini diceritakan oleh An Nawawi kecuali pendapat  berakhirnya takbir sampai zhuhur hari kedua tasyriq. Dan, Al Baihaqi telah meriwayatkan dari para sahabat, dari Ibnu Mas’ud.  Tidak ada yang pasti sedikit pun  hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang hal ini, yang shahih adalah apa yang diriwayatkan dari Ali dan Ibnu Mas’ud bahwa mereka melakukannya sejak subuh hari Arafah hingga akhir hari-hari di Mina –hari tasyriq. (Fathul Bari, 2/462)                                                                                                                                               Syaikh Sayyid Sabiq menambahkan:

ووقته في عيد الاضحى من صحيح يوم عرفة إلى عصر أيام التشريق وهي اليوم الحادي عشر، والثاني عشر، والثالث عشر من ذي الحجة.
         
Waktu bertakbir bagi Idul Adha yang shahih adalah sejak hari ‘Arafah sampai ashar hari-hari tasyriq, yaitu 11,12,13, dari Dzulhijjah. (Fiqhus Sunnah, 1/325)

                Sebenarnya, dalam hadits shahih ada isyarat bahwa mulainya bertakbir bagi Idul Adha adalah sejak hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah), yaitu beberapa riwayat berikut:

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
Hari ‘Arafah, hari penyembelihan qurban, hari-hari tasyriq, adalah hari raya kita para pemeluk islam, itu adalah hari-hari makan dan minum. (HR. At Tirmidzi No. 773, katanya: hasan shahih, Ad Darimi No. 1764, Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: isnaduhu shahih. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1586, katanya: “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tetapi mereka tidak meriwayatkannya.” )
Dari Nubaisyah Al Hudzalli, katanya: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. (HR. Muslim No. 1141) ), dan dalam riwayat Abu Al Malih ada tambahan:dan hari berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim No. 1141)
Maka jika dipadukan semua hadits ini kita simpulkan, hari   berdzikir (bertakbir) sudah dimulai sejak hari ‘Arafah hingga hari tasyriq.  Dan, yang dilakukan para sahabat adalah sejak subuh hari ‘Arafah hingga ashar 13 Dzulhijjah.
Pada hari-hari tersebut (9,10,11,12,13 Dzulhijjah) kita bisa melakukan takbir kapan pun, sejak subuh tanggal 9 hingga ashar tanggal 13. Kita bisa melakukannya di masjid, setelah shalat wajib, di pasar, di rumah, dan di mana pun tempat yang layak untuk berdzikir.
Khadimus Sunnah, Asy Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah rahmatan waasi’ah berkata:
والتكبير في أيام التشريق لا يختص استحبابه بوقت دون وقت، بل هو مستحب في كل وقت من تلك الايام.
قال البخاري: وكان عمر رضي الله عنه يكبر في قبته بمنى فيسمعه أهل المسجد فيكبرون ويكبر أهل السوق حتى يرتج منى تكبيرا. وكان ابن عمر يكبر بمنى تلك الايام وخلف الصلوات وعلى فراشه وفي فسطاطه ومجلسه وممشاه تلك الايام جميعا، وكانت ميمونة تكبر يوم النحر، وكان النساء يكبرن خلف أبان بن عثمان وعمر بن عبد العزيز ليالي التشريق مع الرجال في المسجد

Bertakbir pada hari-hari tasyriq tidak dikhususkan kesunahannya itu pada satu waktu tidak pada waktu lainnya, tetapi disunahkan pada tiap kesempatan di hari-hari itu. Imam Al Bukhari berkata: “Umar Radhiallahu ‘Anhu bertakbir di Kubah di kota Mina, hal itu didengar oleh orang di masjid maka mereka ikut bertakbir, dan bertakbir pula orang yang ada di pasar, sehingga kota Mina riuh dengan takbir. Ibnu Umar bertakbir di Mina pada hari-hari itu, baik setelah shalat, di atas tempat tidur, ketika duduk, atau ketika berjalan, pada hari itu semuanya. Maimunah bertakbir pada hari nahr (10 Dzulhijah), kaum wanita bertakbir bersama kaum laki-laki di masjid pada malam-malam tasyriq, di belakang Abban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz. (Fiqhus Sunnah, 1/326)
Namun, sebagian ulama  ada yang merinci waktunya dan tata caranya. Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah menceritakan sedikit perbedaan waktu-waktu takbir tersebut, sebagai berikut:
وَقَدْ اِشْتَمَلَتْ هَذِهِ الْآثَارُ عَلَى وُجُودِ التَّكْبِيرِ فِي تِلْكَ الْأَيَّامِ عَقِبَ الصَّلَوَاتِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْأَحْوَالِ . وَفِيهِ اِخْتِلَافٌ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ فِي مَوَاضِعَ : فَمِنْهُمْ مَنْ قَصَرَ التَّكْبِيرَ عَلَى أَعْقَابِ الصَّلَوَاتِ ، وَمِنْهُمْ مَنْ خَصَّ ذَلِكَ بِالْمَكْتُوبَاتِ دُونَ النَّوَافِلِ ، وَمِنْهُمْ مَنْ خَصَّهُ بِالرِّجَالِ دُونَ النِّسَاءِ ، وَبِالْجَمَاعَةِ دُونَ الْمُنْفَرِدِ ، وَبِالْمُؤَدَّاةِ دُونَ الْمَقْضِيَّةِ ، وَبِالْمُقِيمِ دُونَ الْمُسَافِرِ ، وَبِسَاكِنِ الْمِصْرِ دُونَ الْقَرْيَةِ . وَظَاهِرُ اِخْتِيَارِ الْبُخَارِيِّ شُمُولُ ذَلِكَ لِلْجَمِيعِ ، وَالْآثَارُ الَّتِي ذَكَرَهَا تُسَاعِدُهُ
Semua atsar ini memuat bahwa adanya takbir itu adalah dilakukan pada hari-hari  itu, setelah shalat, dan dilakukan pula pada berbagai keadaan lain. Para ulama berbeda pendapat dalam berbagai hal: diantara mereka ada yang mempersempit bahwa takbir itu hanya setelah shalat, ada pula yang mengkhususkan lagi hanya pada shalat wajib bukan sunah, ada yang mengkhsuskan itu hanya buat laki-laki bukan wanita, pada shalat berjamaah bukan shalat sendiri, pada shalat yang dilakukan pada waktunya bukan shalat qadha, bagi orang yang mukim bukan musafir, dan pada kota-kota besar bukan pedesaan. Pendapat yang benar, yang dipilih oleh Imam Al Bukhari adalah bertakbir bisa dilakukan pada semua waktu dan keadaan tersebut, dan atsar-atsar yang telah disebutkan mendukung pendapatnya itu. (Fathul Bari, 2/462)
Apa yang dipilih oleh Imam Al Bukhari nampaknya  lebih baik,  karena tidak ada petunjuk yang mengkhususkannya, apalagi petunjuk dari para sahabat menunjukkan bahwa bertakbir bisa dilakukan kapan saja, pada hari-hari tersebut. Wallahu A’lam
Dianjurkan dikeraskan
 Dalam hal ini, tidak ada beda pendapat para fuqaha, bahwa sunahnya mengeraskan takbir Idul Adha. Berbeda dengan Idul fitri yang masih terjadi perselisihan.
Tertulis dalam Al Mausu’ah:
لاَ خِلاَفَ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فِي جَوَازِ التَّكْبِيرِ جَهْرًا فِي طَرِيقِ الْمُصَلَّى فِي عِيدِ الأْضْحَى
Tidak ada perbedaan pendapat di antara fuqaha tentang kebolehan bertakbir dengan dikeraskan di jalan menuju lapangan saat Idul Adha. (Al Mausu’ah, 13/213)
Tentang bentuk kalimat takbirnya, sama dengan takbir pada Idul Fitri.
Selesai. 

Wallahu A’lam

Farid Nu'man Hasan


[1] Imam Al Hakim berkata: “Kalau bukan karena kemajhulan Ishaq bin Barzakh, akan hukumi ini sebagai hadits shahih.” Ucapan Beliau mengindikasikan kedhaifan hadits ini yakni karena majhul (tidak dikenal)-nya Ishaq bin Barzakh.
Tetapi, Imam Ash Shan’ani Rahimahullah mengomentari:
قلت : ليس بمجهول فقد ضعفه الأزدي ووثقه ابن حبان. ذكره في التلخيص.
Aku berkata: dia bukan orang yang majhul, Al Azdi telah mendhaifkannya, dan Ibnu Hibban telah men-tsiqah-kannya. Sebagaimana disebut dalam At Talkhish. (Subulus Salam, 2/72. Lihat juga Imam Ibnul Mulqin, Al Badrul Munir, 5/46)
Selain Ishaq bin Barzakh, ada rawi lain yang dipermasalahkan dalam hadits ini yakni Abdullah bin Shalih, yang didhaifkan oleh mayoritas muhadditsin.
Berkata Imam Al Haitsami:
رواه الطبراني في الكبير وفيه عبد الله بن صالح قال عبد الملك بن شعيب بن الليث : ثقة مأمون . وضعفه أحمد وجماعة
Diriwayatkan oleh Ath Thabarani dalam kitab Al Kabir, di dalamnya terdapat Abdullah bin Shalih. Berkata Abdul Malik bin Syu’aib bin Al Laits: “terpercaya dan amanah.” Tetapi Ahmad dan jamaah ahli hadits mendhaifkannya.  (Majma’ Az Zawaid, 4/16. Darul Fikr)

[2] Ada beberapa riwayat tentang pakaian nabi ketika hari Id. Di antaranya:
أخبرنا إبراهيم بن محمد أخبرني جعفر بن محمد عن أبيه عن جده : أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يلبس برد حبرة في كل عيد
               
Mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Muhammad, mengabarkan kepada kami Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya: bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memakai pakaian dari Yaman setiap hari raya. (HR. Musnad Syafi’i No. 320, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 5932)

Riwayat ini didhaifkan para ulama, karena dua sebab:

Pertama, Ibrahim bin Muhammad, dia adalah Ibnu Muhammad bin Yahya Al Madini, seorang yang matruk (ditinggalkan haditsnya) dan muttaham bil kidzb (tertuduh berdusta).

Imam Al Bukhari mengatakan: “Abdullah bin Al Mubarak dan manusia meninggalkan haditsnya.” (Adh Dhuafa Ash Shaghir, Hal. 17)

Imam Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa Imam Yahya bin Ma’in dan Imam Yahya bin Sa’id mengatakan: “Kadzdzaab – pendusta.” (Adh Dhuafa wal Matrukin, 1/51)

Kedua, Ja’far bin Muhammad, dia adalah Ibnu Muhammad bin Ali bin Al Husein bin Ali bin Abi Thalib.  Berarti kakek beliau –yaitu Ali bin Al Husein- adalah cucunya Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, alias anak dari Al Husein Radhiallahu ‘Anhu. Maka mana mungkin cucunya Ali mendapatkan hadits ini dari nabi? Maka hadits ini mursal – gugur sanadnya pada generasi sahabat- sebagaimana disebutkan para ulama hadits. (Al Hafizh Ibnu Hajar, At Talkhish Al Habir, 2/193. Syaikh Al Albani, Tamamul Minnah, Hal. 345, dan As Silsilah Ash Shahihah, 5/471)
 
Tetapi, hadits ini memiliki syahid (penguat) dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْبَسُ يَوْمَ الْعِيدِ بُرْدَةً حَمْرَاءَ
                Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hari ‘Id memakai pakaian Yaman berwarna merah. (HR. Ath Thabarani dalam Al Awsath No. 7609. Imam Al Haitsami mengatakan: “rijaaluhu tsiqaat - para perawinya terpercaya.” Lihat Majma’ Az Zawaid, 2/198)

[3] Para ulama berbeda pendapat tentang hadits ini. Imam Al Hakim mengatakan: “Hadits ini shahih, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya. Dan, Abu Yahya At taimi adalah shaduuq (jujur), yang dikritik adalah Yahya bin Ubaidillah, anaknya.” Imam Adz Dzahabi menyepakatinya dalam At Talkhish, katanya: “Sesuai syarat keduanya (Bukhari dan Muslim).” (Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, No. 1094)

                Imam An Nawawi mengatakan: “Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan isnad yang hasan.” (Khulashah Al Ahkam, 2/825)
                Tetapi kebanyakan ulama mendhaifkan hadits ini.
-          Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Isnaduhu dhaif – isnadnya dhaif.” (At Talkhish Al Habir, 2/195), Beliau juga mengatakan dalam kitabnya yang lain: “Layyin-lemah.” (Bulughul Maram, Hal. 179. Mawqi’ Misykah)
-          Imam Yahya bin Al Qaththan mengatakan: “hadits ini dhaif.” (Imam Ibnu Mulqin, Al Badru Al Munir, 5/65)
-          Imam Adz Dzahabi mengatakan: “hadits ini munkar.” (Mizanul I’tidal, 3/315)
-          Imam Ash Shan’ani mengatakan: “Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan isnad yang layyin, karena adanya seorang majhul (tidak dikenal keadaannya), dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dan Al Hakim dengan isnad yang dhaif.” (Subulus Salam, 2/71)
-          Imam Al ‘Aini mengatakan: “Tidak ada yang tsabit (kokoh) dalam masalah ini.” (Syarh Abi Daud, 4/490)
-          Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr mengatakan: “Hadits ini dhaif, ghairu tsaabit – tidak kuat.” (Syarh Sunan Abi Daud, 6/473)
-          Syaikh Al Albani mengatakan: “isnaduhu dhaif – isnadnya lemah.”  Beliau mengoreksi Imam Al Hakim dengan mengatakan:

وقال الحاكم:" صحيح الإسناد، وأبو يحيى التيمي صدوق "! كذا قال! ووقع في "تلخيص المستدرك ":" على شرطهما ". وأظنه خطأً من الطابع أو الناسخ؛ فإنه خطأ محض.وأما تصحيح الحاكم فمن تساهله الذي اشتهر به.
Berkata Al Hakim: “Shahihul isnad, Abu Yahya At Taimi adalah shaduuq (jujur).” Begitulah katanya! Dan tercatat dalam At Talkhish Al Mustadrak: “Sesuai syarat keduanya (Bukhari-Muslim).” Aku kira ini adalah kesalahan dari percetakan atau naskah, dan ini adalah kesalahan murni. Ada pun penshahihan Al Hakim adalah bagian dari sikap tasahul (menggampangkan) dari Beliau yang memang sudah terkenal begitu. (Dhaif Abi Daud, 2/18)

Ada beberapa faktor hadits ini dinilai lemah oleh umumnya para ulama.

Pertama, di dalam sanadnya terdapat ‘Isa bin Abdul A’la bin Abu Farwah, yang oleh para muhadditsin disebut sebagai majhuul (tidak diketahui identitas dan keadaannya). Imam Adz Dzahabi mengatakan: “Tidak dikenal.” Ibnul Qaththan mengatakan: “Aku tidak ketahui ‘Isa ini tercatat dalam kitab-kitab rijaal sedikit pun, dan tidak pula pada selain isnad ini.”  (Mizanul I’tidal, 3/315), Imam Ibnu Hajar mengatakan: ”majhuul.” (Taqribut Tahdzib No. 5305), Imam Abu Thayyib Syamsul Azhim Abadi mengatakan: “rajulun majhuul –laki-laki yang tidak dikenal.” (‘Aunul Ma’bud, 4/18), Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad mengatakan: “majhuul.” (Syarh Sunan Abi Daud, 6/474), Imam Ibnu Mulqin mengatakan: “tidak dikenal.” (Al Badrul Munir, 5/65)

Kedua,  tentang Abu Yahya At Taimi, yang oleh Imam Al Hakim disebut shaduuq.
Kebanyakan ulama men-jarh (kritik) orang ini.  Imam Ahmad mengatakan: “Hadits-haditsnya munkar, dia tidak dikenal, begitu pula ayahnya.” Beliau juga didhaifkan oleh An Nasa’i, Ad Daruquthni,  Ibnu Hibban, dan Yahya. (Al Badrul Munir, 5/65, Tahdzibul Kamal, 19/80)

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad mengatakan: “maqbuul –bisa diterima. Dipakai oleh Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majah.” (Syarh Sunan Abi Daud, 6/474) namun, tidak dijelaskan alasan maqbul-nya. Oleh karena itu, kritikan untuk Abu Yahya At Taimi lebih didahulukan karena dijelaskan secara terperinci sebagaimana perkataan Imam Ahmad. Hal ini sesuai kaidah: “Al Jarh Al Mufassar muqaddamun ‘alat Ta’dilil ‘Aam – kritikan yang terperinci lebih diutamakan dibanding pujian yang masih umum.”

Ketiga, dalam sanadnya terdapat Al Walid bin Muslim, seorang imam yang terpercaya dan banyak ilmunya, dan imam negeri Syam pada zamannya. Tetapi Abu Mashar berkata: “Dia adalah seorang mudallis (suka menggelapkan sanad dan matan), dan barangkali dia men-tadlis dari para pendusta.” (Mizanul I’tidal, 4/347), bahkan Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “mau’ruf maushuf bit tadlis asy syadid – dikenal disifati sebagai orang yang berat tadlis-nya.” (Thabaqat Al Mudallisin, Hal. 51)

Oleh karenanya, kecenderungan yang lebih kuat adalah hadits ini dhaif, sebagaimana menurut mayoritas ulama. Wallahu A’lam.

[4] Imam Al Hakim berkata: “Shahih sesuai syarat mereka berdua (Bukhari dan Muslim), tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.” Imam Adz Dzahabi menyepakatinya, katanya: sesuai syarat mereka berdua.” (Al Mustadrak No. 1099)  Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “hasan lighairih.” (Ta’liq Musnad Ahmad No. 8454)
               

[5] Imam Al Hakim berkata: “Hadits ini shahih sesuai syarat Muslim.” Imam Adz Dzahabi berkata dalam At Talkhish: “Shahih sesuai syarat Muslim.” (Al Mustadrak ‘Alash Shahihain No. 1091), Imam Ibnu Hajar mengatakan: Isnadnya shahih.” (Bulughul Maram, Hal. 179. Mawqi’ Misykah), Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: “Shahih.” (Ta’liq Musnad Abu Ya’la No. 3820), Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “isnadnya shahih. Para perawinya terpercaya dan merupakan perawi syaikhan (Bukhari dan Muslim). (Ta’liq Musnad Ahmad No. 12006)
[6] Imam Ash Shan’ani Rahimahullah memberikan sebuah komentar:
وأما نظر عائشة إليهم وهم يلعبون وهي أجنبية ففيه دلالة على جواز نظر المرأة إلى جملة الناس من دون تفصيل لأفرادهم كما تنظرهم إذا خرجت للصلاة في المسجد
                Adapun melihatnya ‘Aisyah kepada mereka, disaat mereka sedang bermain-main, padahal dia adalah wanita ajnabiyah (asing-bukan mahram), maka pada kasus ini ada petunjuk bolehnya wanita melihat kepada manusia secara umum, bukan pada melihat secara rinci satu persatu, sebagaimana melihatnya mereka ketika mereka keluar untuk shalat di masjid. (Subulus Salam, 1/156)
[7] Dari Sa’ad bin Malik, katanya bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sebaik-baiknya dzikir adalah yang tersembunyi (Al Kkhafiy).” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya No. 809,  Ahmad No. 1477, Al Baihaqi dalam  Syu’abul Iman No. 552, 10369, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi, Kanzul ‘Ummal No. 1771, Al Qudha’i dalam Musnad Asy Syihab No. 1218, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf No. 29663)

                Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Abu ‘Uwanah. (Imam As Sakhawi, Al Maqashid Al Hasanah, 1/333) Tetapi Imam An Nawawi mendhaifkannya, katanya: “Laisa bitsaabit – bukan hadits yang kuat.” (At Tadzkirah fil Ahadits Al Musytahirah, Hal. 202), dan didhaifkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth. (Ta’liq Musnad Ahmad No. 1477), juga oleh Syaikh Al Albani. (Shahihul Jami’ No. 2887)

                Pada sanad hadits ini ada rawi bernama: Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Labibah. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan tentang dia: “dhaif, dan belum berjumpa dengan Sa’ad bin Malik.” (Ta’liq Musnad Ahmad No. 1477), dengan kata lain kelemahan hadits ini karena dhaifnya Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Labibah, dan sanadnya munqathi’ (terputus), karena Beliau tidak pernah bertemu dengan Sa’ad bin Malik.

                Beliau ditsiqah-kan oleh Ibnu Hibban, namun didhaifkan oleh Yahya bin Ma’in. (Imam Al Haitsami, Majma’ Az Zawaid, 10/86)

Baca Ini Juga ...: