Tentang Musibah



Islamedia - Musibah, bagi orang-orang beriman, pastilah mengajak hati untuk tunduk kepada-Nya.  Dalam musibah itu kita dapat memahami posisi kita yang sebenarnya sebagai makhluk Allah.  Akan tetapi, fenomena di Twitter menunjukkan bahwa dalam menyikapi musibah pun ternyata tidak lepas dari perang pemikiran.  Sementara sebagian orang mengajak untuk mengingat Allah, sebagian lainnya justru menampik bahwa musibah ini ada sangkut-pautnya dengan Allah SWT.

Orang-orang sekuler biasanya menolak untuk mengaitkan musibah dengan maksiat.  Sebab, kata mereka, itu tidak rasional.  Inilah salah satu wajah sekularisme yang pernah digarisbawahi oleh Prof. Naquib al-Attas, yaitu disenchantment of nature.  Disenchantment of nature adalah penghilangan pesona spiritual dari alam, atau pemisahan sepenuhnya aspek-aspek spiritual dari alam.  Pemikiran ini mengikuti Aristoteles yang berpendapat bahwa Tuhan itu jauh dari alam.  Adapun bagi seorang Muslim, alam itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah.  Di sini terlihat jelas perbedaan di antara kedua ideologi.

‘Tanda-tanda kekuasaan’ ini banyak implikasinya.  Di awal Surah An-Naba’, kita ‘dibuai’ oleh gambaran keteraturan alam yang diceritakan.  Akan tetapi, cerita indah itu kemudian disambung dengan peristiwa Hari Kiamat yang mencerai-beraikan semua keteraturan itu.  Siapa pun yang mempelajari fenomena alam pasti mengagumi keindahan keteraturan di dalamnya.  Jika Allah SWT mampu menciptakan keteraturan, maka Dia pun pasti mampu meluluhlantakkannya.  Dengan melihat keteraturan di alam, kita bisa memahami betapa besar kekuasaan Allah.  Keteraturan alam juga berimplikasi pada ‘respon alam’ terhadap kerusakan yang kita buat.  Bisa dikatakan, jika kita berbuat zalim kepada alam, maka alam akan ‘bertindak’ kepada manusia, salah satunya dengan menghadirkan keteraturan baru yang seringkali melibatkan bencana alam.  Banjir, misalnya, dianggap sebagai sebuah musibah di kota seperti Jakarta.  Akan tetapi, di alam bebas pun sebenarnya terjadi banjir, dan ia merupakan bagian dari siklus alami.  Semua yang mempelajari Hidrologi pasti mengetahui hal ini.  Akan tetapi, selain banjir yang alami, ada pula banjir lainnya, misalnya yang diakibatkan oleh penebangan hutan secara berlebihan atau penyumbatan saluran drainase.

Jika dikaitkan dengan konsep ‘adab yang telah dibahas sebelumnya, jelaslah bahwa setiap Muslim harus memelihara ‘adab-nya terhadap alam.  Disenchantment of nature membawa orang-orang sekuler pada pandangan bahwa alam adalah objek yang tersedia demi kesenangan manusia, sehingga ia dapat dieksploitasi semaunya.  Jelas berbeda dengan orang-orang beriman yang dibatasi dengan koridor ‘khalifah Allah di muka bumi’.  Alam ini kita yang pimpin, namun menjadi pemimpin tak boleh zalim.  Oleh karena itu, Islam melarang segala keburukan terhadap alam, misalnya dengan mengajarkan manusia untuk selalu menjaga kebersihan.  Ini adalah kewajiban setiap Muslim.

Petualang Muslim yang pernah mampir ke Rusia berabad-abad yang lampau memberikan catatan menarik seputar penduduk asli daerah tersebut.  Menurut mereka, masyarakat asli Rusia sangat jorok, kontras sekali dengan umat Islam yang terbiasa dengan kebersihan.  Ini adalah gambaran betapa peradaban Islam pernah mencapai kedudukan yang sangat tinggi di tengah-tengah peradaban lainnya, sedangkan aspek-aspek peradaban yang membanggakan itu sepenuhnya berasal dari tuntunan wahyu, bukan akal semata.

Hal menarik lainnya dari ajaran Islam adalah bahwa iman tidak hanya dikaitkan dengan hati, tapi juga pada perbuatan, sehingga ajaran Islam dipenuhi oleh tuntunan-tuntunan yang sifatnya praktikal.  Karena alam adalah tanda-tanda kekuasaan Allah, maka hidup selaras dengan alam adalah bagian dari iman juga.  Jadi, untuk menghindari musibah, tidak cukup hanya dengan keyakinan di dalam hati, melainkan juga harus dengan tindakan.  Oleh sebab itu, membersihkan sungai-sungai dan saluran drainase untuk mencegah banjir, misalnya, juga merupakan bukti keimanan.  Sebaliknya, sembarangan membuang sampah ke sungai dan saluran drainase adalah sebuah kemaksiatan yang menunjukkan lemahnya iman.  Pohon boleh ditebang dan kayunya dimanfaatkan, asal jangan berlebihan.  Ini adalah bagian dari keimanan kita juga.

Di sisi lain, kita juga tidak bisa mengatakan bahwa orang-orang beriman takkan kena musibah.  Dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 155-156, dinyatakan ciri-ciri orang sabar ketika menghadapi musibah.  Karena sabar (shabr) adalah sebuah konsep yang sudah pasti dikaitkan dengan iman, maka jelas bahwa orang beriman pun bisa kena musibah. 
Beberapa musibah memang di luar jangkauan prediksi manusia.  Tsunami atau ledakan gunung berapi, misalnya, tak bisa diramal dan dicegah, minimal oleh jangkauan sains terkini.  Meski demikian, masih banyak bukti keimanan yang dapat kita tunjukkan dalam menyikapi musibah-musibah semacam ini.  Misalnya perbaikan sistem untuk menghadapi musibah yang bisa terjadi sewaktu-waktu.  Pembangunan tempat pengungsian untuk wilayah-wilayah yang rawan bencana dan persiapan logistik sebagai bagian dari langkah preventif juga bagian dari tugas kita sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Berbeda dengan paham sekuler yang melakukan disenchantment of nature, Islam justru melakukan proper disenchantment of nature, yaitu dengan meniadakan nilai-nilai mistis berlebihan dari alam.  Gunung yang meledak bukan karena gunungnya marah, melainkan karena siklus alaminya.  Demikian juga tsunami menerjang bukan karena ‘sang penunggu laut’ murka, melainkan ada sebab-sebab yang bisa dipahami akal, meskipun tak bisa dicegahnya.  Di luar dari sebab-sebab rasional tersebut, alam tetaplah merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah.  Sungguh mubadzir waktu yang terbuang jika kita hanya menatap kagum kepada sebuah tanda yang begitu indah dibuat tanpa menghiraukan ke mana tanda tersebut menunjuki kita.

Menghadapi berbagai musibah yang menimpa kita, sudah sepantasnya kita bertanya kepada diri sendiri: kezaliman apa yang telah kita lakukan kepada alam?  Kezaliman apa yang telah kita lakukan kepada diri sendiri?  Musibah yang terjadi akibat tangan-tangan kita sendiri menunjukkan ketidakmengertian kita dalam memahami tanda-tanda kekuasaan Allah.  Artinya, kita belum menjadi khalifah Allah yang baik.  Inilah saatnya menyadari kelemahan kita.  Jangankan melawan Allah, melawan tanda-tanda kekuasaan-Nya pun tak kuat.  Jangankan gunung meletus, angin panasnya pun sudah tak mampu kita bendung.  Jangankan bencana alam yang tak teramal, untuk mencegah bencana yang bisa dicegah pun seringkali kita masih kecolongan.

Di balik musibah, senantiasa ada kasih sayang Allah.  Jika sabar menghadapinya, maka dosa-dosa (kepada Allah) pun berguguran.  Musibah juga menelanjangi kita dari berbagai kesombongan, sedangkan kesombongan itulah yang akan menghalangi kita dari kebaikan di akhirat kelak.  Musibah adalah cara lain yang Allah gunakan untuk mendidik manusia, yaitu dengan memberi peringatan, meskipun terasa berat bagi kita.  Di luar itu semua, musibah pun menghilangkan sekat-sekat pembatas di antara manusia.  Musibah membuat manusia bersatu dalam menghadapi masalah bersama.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa mereka yang telah dipanggil-Nya dan menerima amal-amal saleh mereka.  Semoga Allah melembutkan hati kita yang tidak mengalami musibah secara langsung, dan semoga kita diberi petunjuk agar bisa menarik pelajaran darinya.  

Oleh: Akmal Sjafril ST MPdI
close
Banner iklan disini